KH. Muhammad Syanwani lahir pada 13 Agustus 1926 M atau pertepatan dengan tahun 1347 Hijriah. Beliau berasal dari Kampung Sampang, Desa Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten. Putra ketiga dari pasangan KH. Abdul Aziz dan Nyai Salhah tumbuh besar dalam lingkungan yang religius.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pondok Pesantren
3.2 Karya-Karya
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Syanwani lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 M atau pertepatan dengan tahun 1347 Hijriah. Beliau berasal dari Kampung Sampang, Desa Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan KH. Abdul Aziz dan Nyai Salhah tumbuh besar dalam lingkungan yang religius.
1.2 Wafat
Sejak mengajar di kampus, beliau mulai menderita penyakit darah tinggi. Bahkan, beliau sempat dirawat di beberapa rumah sakit. Setelah sakit-sakitan, aktivitas dakwahnya pun mulai dikurangi. Hingga akhirnya KH. Muhammad Syanwani berpulang ke Rahmatullah pada 17 April 1993. Jenazahnya dikebumikan di tanah permakaman milik keluarga besarnya di Sampang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Masa kecil beliau memperoleh pendidikan ilmu agama Islam dari dari kedua orang tuanya. Karena itu, tak heran jika dalam usia yang masih belia, beliau sudah mampu membaca Al-Qur'an dengan fasih. Ayah dan ibunya menerapkan disiplin yang ketat untuk sang buah hati.
Pada 1939, KH. Muhammad Syanwani mendapat kesempatan untuk belajar selama dua tahun di sekolah rakyat (volkschool). Di sana, beliau menjadi murid yang diperhitungkan oleh guru-guru. Sebab, anak lelaki ini memiliki kemampuan menulis dan berhitung yang paling bagus dibandingkan kawan-kawan sebaya.
Setelah belajar di sekolah formal, barulah KH. Muhammad Syanwani dikirim orang tuanya untuk mondok. Tercatat, beberapa pondok pesantren pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu-ilmu keislaman. Beliau mengawali rihlah intelektualnya di Pondok Pesantren Biyongbong, Undar-Andir, Serang. Selama dua tahun, beliau banyak mempelajari dasar-dasar ilmu keislaman kepada Kyai Jamin, pengasuh lembaga tersebut.
Setelah dari Pesantren Biyongbong, KH. Muhammad Syanwani muda kemudian melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Pesantren Cengkudu, Baros, Serang. Selama lima tahun di pesantren ini, beliau mendapat bimbingan dari KH. Muhammad Sidik, seorang kyai kharismatik dan alim di Banten. Banyak hikmah dan pelajaran yang diterima KH. Syanwani dari gurunya tersebut.
Di Pesantren Cengkudu, KH. Muhammad Syanwani termasuk santri yang cerdas. Karena itu, Abuya Sidik mempercayakan padanya untuk mengajar para murid. Bahkan, ada beberapa ustadz yang mengaji sepekan sekali kepadanya. Sang abuya sangat membanggakan santri kinasihnya tersebut.
Keberlangsungan kajian di sana tidak terjaga. Sebab, KH. Syanwani masih harus mondok lagi ke beberapa pesantren. Di antaranya adalah sebuah pesantren tasawuf yang diasuh Kyai Umar di Rancalang selama empat tahun. Selama di sana, putra daerah Banten itu menyelami dunia sufisme secara lebih aktual dan kontekstual. Dalam perjalanan kesufiannya, beliau tetap memegang Syarah Al-Hikam sebagai pedoman laku spiritualitas.
Setelah dari Cengkudu, KH. Muhammad Syanwani remaja melanjutkan mesantren di Sondol Rangkasbitung Lebak di bawah bimbingan KH. Sayuda, seorang ulama besar yang termasuk kakeknya KH. Syanwani dari jalur ibu, Di Sondol in
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

