Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Habib Salim bin Thoha Al-Haddad, Ulama Kharismatik dari Kalibata, Jakarta
✓ Terverifikasi Tim Riset

Habib Salim bin Thoha Al-Haddad, Ulama Kharismatik dari Kalibata, Jakarta

1898 – 1978 M · 7.391 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Keseharian amal ibadah Habib Salim, yang selalu diliputi oleh perasaan penuh ketenangan dan ketawadhu’an, membekas kuat dalam kepribadian beliau yang sangat tenang, rendah hati, dan senang membantu memenuhi hajat orang lain.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Dekat dengan Ulama Sepuh
3.2  Membuka Majelis
3.3  Melayani Masyarakat
3.4  Ulama yang Tawadhu

4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Keseharian amal ibadah Habib Salim, yang selalu diliputi oleh perasaan penuh ketenangan dan ketawadhu’an, membekas kuat dalam kepribadian beliau yang sangat tenang, rendah hati, dan senang membantu memenuhi hajat orang lain.

1.1 Lahir
Habib Salim diperkirakan lahir sekitar tahun 1898 M. Di Kalibata, Jakarta Selatan, beliau merupakan putra dari pasangan Habib Thoha bin Ja’far AI-Haddad dan Ibu Tihamah, seorang wanita Betawi yang dikenal shalehah.

Orangtuanya, Habib Thoha bin Ja’far, juga kelahiran Kalibata. Yang pertama kali masuk ke Indonesia dan mendiami Kampung Kalibata adalah kakeknya, yaitu Habib Ja’far Al-Haddad. Sayang sekali, tidak ditemukan data yang menyebutkan tanggal kelahiran Habib Salim, kecuali sekedar perkiraan.

1.2 Wafat
Habib Salim bin Thoha wafat pada Hari Jum’at malam tanggal 20 Oktober 1978 M. Ribuan pelayat mengantar jenazahnya menuju tempat peristirahatannya yang terakhir, kompleks pemakaman keluarga Al-Haddad Kalibata.

Usai pemakaman, Habib Abdullah bin Husain Syami Al-Atthas membacakan talqin. Kompleks pemakaman tempat jasad Habib Salim dimakamkan, saat ini dikenal dengan nama Qubah Habib Salim bin Thaha AI-Haddad.

Empat puluh hari setelah wafatnya, Habib Abdullah bin Salim Al-Atthas, sahabat terdekatnya, mengunjungi majelis tahlil di rumahnya. Di sana, tiba-tiba beliau meminta agar para jamaah yang hadir memainkan hadrah. Para jamaah yang biasa bertugas untuk membawakan hadrah, terlihat ragu. “Bukankah ini acara tahlil, kenapa harus dimeriahkan dengan pemukulan rebana?” demikian mungkin yang terlintas dalam pikiran sebagian orang di sana pada saat itu.

Melihat keraguan di wajah mereka, Habib Abdullah bin Salim Al-Atthas mengatakan, “Anda semua tidak tahu, saat ini Habib Salim sangat senang dengan kedatangan saya. Bahkan beliau sedang menyambut saya. Maka sekarang ambil dan pukullah rebana. Siapa bilang Habib Salim sudah tak ada? Sekarang ini Habib Salim ada di tengah-tengah kita. Tapi kalian tidak melihatnya.”

Kemudian Habib Abdullah bin Salim Al-Atthas membacakan sebuah ayat Al-Qur’an yang berisikan keterangan bahwa sesungguhnya kekasih-kekasih Allah SWT itu tidaklah mati. Mereka tetap hidup dalam naungan rahmat Allah SWT.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Sejak kecil, telah tampak perbedaan dalam sikap hidup Habib Salim dibandingkan kawan-kawan sepermainannya. beliau sudah senang mengenakan pakaian sunnah Nabi SAW, berupa baju gamis. beliau juga dikenal sebagai anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya.

Dalam usia yang masih belia, beliau dibawa ke Hadhramaut oleh ayahandanya. Di sana, beliau belajar dengan banyak ulama. Di antara gurunya yakni Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Pada masa mudanya, beberapa kali beliau pulang pergi Jakarta-Hadhramau

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+