KH. Mahmud Hashil bin Muhammad Hashil, beliau dilahirkan di Banjarmasin pada tahun 1950. Beliau lahir dari keluarga yang cukup sederhana, kedua orang tuanya berasal dari Madura, di daerah Bangkalan. Orangtuanya Bernama Muhammad Hashil dan ibuknya bernama Fatimah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Karier Beliau
3.2 Karya Beliau
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mahmud Hashil bin Muhammad Hashil, beliau dilahirkan di Banjarmasin pada tahun 1950. Beliau lahir dari keluarga yang cukup sederhana, kedua orang tuanya berasal dari Madura, di daerah Bangkalan. Orangtuanya Bernama, Ayahanda Muhammad Hashil dan ibundanya bernama Fatimah.
Beliau dididik oleh ayahnya dan dimasukkan ke pondok pesantren Darussalam Martapura dari tahun 1964 sampai selesai menempuh pendidikan di pesantren tersebut pada tahun 1973.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Mahmud menikah dengan seorang wanita sholehah dan dari pernikahan itu dikaruniai anak sebanyak 13 orang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Mahmud Hashil menghabiskan masa menuntut ilmu selama 10 tahun di pondok pesantren Darusalam Martapura dari tahun 1964 sampai tahun 1973. Pesantren itu berada dibawah asuhan KH. Muhammad Sya‟rani Arif atau Tuan Guru Anang Sya‟rani dan KH. Salim Ma‟ruf. KH. Mahmud Hashil merasakan keberkahan dan keilmuwan dari dua tokoh besar tersebut. Di pesantren, Guru Mahmud Hasil menjalani kehidupan apa adanya dan banyak bersabar atas ujian dalam belajar ilmu agama. Dari Tuan Guru Anang Sya‟rani, KH. Mahmud Hashil mendapatkan ijazah ilmu hadis.
Disamping belajar ilmu di pesantren Darusalam, KH. Mahmud Hashil juga belajar ilmu ke orang-orang alim di luar pesantren seperti Tuan Guru Semman Mulia, Tuan Guru Husin Dahlan dan Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul). Setelah selesai menuntut ilmu di pondok tersebut, beliau mengkhususkan mempelajari ilmu-ilmu agama, antara lainnya Ilmu hakikat atau Ilmu Tasawuf Muhaqqiqīn kepada Tuan Guru H. Abdu Syukur di Teluk Tiram Banjamasin. KH. Abdus Syukur Teluk Tiram atau biasa yang dikenal dengan Mu‟allim Abdus Syukur teluk tiram. Guru Mahmud Hasil juga belajar kepada KH. Anang Ramli Bati-Bati, yang dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang tasawuf,
2.2 Guru-Guru beliau Sewaktu Menuntut Ilmu di antaranya:
- KH. Muhammad Sya‟rani Arif atau Tuan Guru Anang Sya‟rani
- KH. Salim Ma‟ruf
- Tuan Guru Semman Mulia
- Tuan Guru Husin Dahlan
- Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)
- Tuan Guru KH. Abdul Syukur
- Tuan Guru KH. Anang Ramli, Bati-Bati, Kalimantan Selatan
2.3 Mendirikan Pondok Pesantren
KH. Mahmud Hashil di Palangkaraya juga mendirikan serta menjadi pengasuh sebuah pondok pesantren yang diberi nama “Pesantren Sunan Jati”, disamping beliau juga membangun pengajian umum di pondok tersebut yang rutin dilangsungkan pada malam rabu dikenal dengan nama “Majelis Ta‟līm Ubūdiyah” yang menurut orang majelis tersebut
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

