Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. M. Chaedar, Muasis Pesantren Nurul Falah, Pandeglang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. M. Chaedar, Muasis Pesantren Nurul Falah, Pandeglang

1923 – 2008 M · 2.774 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Moch. Chaidar dilahirkan di Kp. Cigodeg kecamatan petir kabupaten serang, pada tanggal 5 Juli 1923. beliau merupakan putra kedua dari kelima bersaudara keturunan dari pasangan KH. Emed Zuhri dan Ny. Hj.Mahdiyah

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Murid-Murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Lembaga Pendidikan Islam
4.2  Karier

5.    Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga 

1.1 Lahir
KH. Moch. Chaidar lahir di Kampung Cigodeg, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, pada tanggal 5 Juli 1923. Beliau merupakan putra kedua dari lima bersaudara, keturunan pasangan KH. Moch Emed Zuhri dan Ny. Hj. Mahdiyah. KH. Moch Emed Zuhri, seorang pejuang religius, membela agama Islam pada masa penjajahan, sehingga diasingkan ke Digul, Papua, oleh Tentara Belanda. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah di Cigodeg, Petir, KH. Moch Emed Zuhri mewariskan semangat perjuangan dan pengabdian kepada putranya, KH. Moch Chaedar Zuhri, yang kemudian menjadi pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah di Kaungcaang.

Sebelum diasingkan ke Digul, KH. Moch Emed Zuhri menitipkan KH. Moch Chaedar kepada KH. Azhari, seorang santri dekat dari Desa Cimeong, Baros. Hal ini dilakukan karena kebaikan dan kedekatan KH. Azhari dengan keluarga KH. Moch Emed Zuhri tidak diragukan lagi.

1.2 Wafat
Pada tahun 1999, KH. Moch Chaedar mulai sakit dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Serang, dirawat selama 17 hari, dan berada di ICU selama 5 hari. Dokter mendiagnosis beliau mengidap penyakit serangan jantung.

Menjelang wafat, pada 1 Juni 2008, beliau memanggil beberapa anggota keluarga dan berpesan dalam bahasa Sunda agar para santri tidak ditinggalkan. Meskipun dalam kondisi kritis, beliau tetap berkomunikasi dengan baik dan bahkan sempat bercanda dengan para santrinya.

KH. Moch Chaedar wafat pada hari Rabu, 3 Juni 2008, meninggalkan seorang istri, tujuh anak, tujuh menantu, dan sembilan belas cucu.

1.3 Riwayat Keluarga
Setelah menimba ilmu di Cilaku (Cianjur), KH. Moch Chaedar kembali ke Cimeong. Statusnya sebagai anak seorang Kyai menarik banyak perhatian wanita untuk menjadi pendamping hidupnya.

KH. Moch Emed Zuhri dan KH. Azhari kemudian menjodohkan beliau dengan Hamdanah binti Arca Wati, putri sulung KH. Azhari. Pada tanggal 10 Maret 1941, dalam usia 18 tahun, KH. Moch Chaedar menikahi Hamdanah yang pada saat itu berusia 9 tahun dan dikaruniai anak bernama KH. Fachri

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Moch Chaedar dikenal memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Pada usia tiga tahun, beliau mulai bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) di Cigodeg, Petir. Setelah lulus, beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Jamiatul Khairiyah, Tanah Abang, di bawah asuhan KH. Mansur.

Selanjutnya, beliau belajar di Pondok Pesantren Riyadul Awwalin di Cangkudu, Baros selama tiga tahun, dan kemudian di Cilaku (Cianjur) di bawah asuhan KH. Momo selama tiga tahun. Setelah menikah, beliau melanjutkan menuntut ilmu di Plered (Purwakarta) di bawah asuhan Mama KH. Bakrie.

2.2 Guru-Guru
1. 

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+