KH. Muhammad Ilyas (Mamah Cibitung), Muasis Pesantren Sukamanah, Bandung Barat
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak
3.2 Murid-murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Karier Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Ilyas merupakan merupakan seorang ulama yang pernah belajar di Mekkah bersama dengan ayahnya KH. Fakhruddin Assalafiyah Batujajar. Beliau lahir di Lembur Gede Cibitung pada tahun 1836 M. Ulama yang akrab dipanggil dengan nama Mama Haji Ilyas ini merupakan keturunan ulama dari Bogor.
Beliau adalah putra dari Mama KH. Ali Lembur Gede Cibitung bin Embah Rahya Bogor Bin Hamdan Bogor yang berasal dari keturunan Dalem Sawidak Sukapura Singaparna Tasikmalaya. Nasab Ibu Hj. Khodimah Cibitung binti Embah Bale Cibitung bin Embah Raden Adulloh berasal Dari keturunan Dalem Sawidak Sukapura Singaparna Tasikmalaya.
1.2 Wafat
Beliau dipanggil Rahmatullahi tahun 1953 pada usia 117 tahun.
1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan Wastijah yang merupakan salah seorang putri Mama KH. Husen Pasir Gombong Cibitung pada tahun 1871.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Ilyas memiliki spesialisasi ilmu keagamaan dalam bidang tasawuf, nahwu, sharaf, dan fiqh. Sepulangnya dari Mekkah, beliau kemudian kembali belajar pada Mama KH. Yasin Sodong Cianjur dan kemudian di tugaskan untuk mengajar di Pesantrennya di Sodong Cianjur selama satu tahun, setelah itu kemudian beliau di suruh untuk mukim dan Awalnya beliau bermukim bersama ayahnya di Lembur Gede Cibitung, namun selama bermukim hati beliau selalu gundah tanpa diketahui penyebabnya.
Keinginan untuk berguru kepada Syekh Kholil Bangkalan, di perjalanan selama 3 tahun dari perjalanan ke Bangkalan, Madura. Berpisah dengan ibu rama setelah 25 tahun. Sehingga beliau lupa bagaimana rupa dan nama ayah dan ibunya, bagaimana nama dan keadaan kampungnya, yang masih ingat hanyalah bahwa ayahnya mempuanyai pesantren.
Demikian pula ternyata ibu dan ayahanda beliaupun sudah lupa bagaimana rupa anaknya. Maka ketika pulang dari Madura, beliau hanya mencari pesantren di tempat yang jalan dan keadaannya dikira-kirakan. Akhirnya menemukan sebuah pesantren, beliau memohon izin kepada Ajengannya untuk ikut mondok di pesantren tersebut. Ternyata ajengan tersebut tidak lain adalah ayahanda beliau.
2.2 Guru-Guru:
- Mama KH. Ali ( Ayahanda Beliau)
- Mama KH. Husen ( Mertua Beliau)
- Mama KH. Yasin Sodong Cianjur
- Mama KH. Shoheh Bunikasih Cianjur
- Mama KH. Said Cipadang Gentur Cianjur
- Mama KH. Epeng Sadang Bandung
- Mama KH. Sholeh Benda Kerep Cirebon
- Mama KH. Mansyur Cimanggu Ciawi Tasikmalaya
- Mama Cimuncang Panjalu Ciamis
- Mama KH. Shobari Cikalong Cianjur
- Mama
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

