KH. Badruzzaman lahir di Biru pada tahun 1900. Beliau adalah putra kelima dari sembilan bersaudara. Bapaknya bernama KH. Raden Muhammad Faqih bin Kyai Raden Bagus Muhammad Ro’i yang lebih populer dengan panggilan "Ama Biru (Sesepuh Biru)"
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Anak-anak
3.2 Murid-murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier Beliau
4.2 Karya Beliau
5. Muqaddam Tarekat Tijamiyah
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Badruzzaman lahir di Biru pada tahun 1900. Beliau adalah putra kelima dari sembilan bersaudara. Bapaknya bernama KH. Raden Muhammad Faqih bin Kyai Raden Bagus Muhammad Ro’i yang lebih populer dengan panggilan "Ama Biru (Sesepuh Biru)". KH. Raden Muhammad Faqih adalah seorang ulama, yang terkenal 'alim dan wara' selalu berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah saw.
Ibunya bernama Hj. Kulsum, seorang perempuan shalihah yang tekun melaksanakan ibadah, rajin melaksanakan dzikir, membaca shalawat, dan banyak membaca al-Quran; pada usia 110 tahun ia masih bisa melihat dan membaca ayat al-Quran dengan fasih tanpa harus menggunakan alat bantu (kacamata), sampai wafatnya pada usia 115 th.
1.2 Wafat
KH. Badruzzaman wafat tahun 1971 M. dan dimakamkan di samping kanan masjid Jami Pesantren al-Falah Biru, Garut.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Badruzzaman menikahi wanita sholeh dan dikaruniai beberapa anak, di antaranya adalah: KH. Ismail, KH. Dadang Ridwan, KH. Dr. Eng. Muchlis, DEA, KH. Endeh Hidayat, KH. Engking, KH. Jamhur, KH. Dr. Ikyan Syibaweh, M.A., Drs Adnan, M.A.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Badruzzaman berguru kepada banyak ulama dari berbagai pesantren. Beliau mengaji dasar-dasar ilmu agama yang berkait dengan ubudiyyah dan akhlaq dari ayahnya.
Semasa kecil KH. Badruzzaman diajari mengaji dasar-dasar ilmu agama oleh ayahnya dalam rumah tangga yang bersyi'arkan agama Islam baik yang terkait dengan ubudiyah maupun akhlaq al-karimah. Ketika memasuki usia sembilan tahun ia berguru Ilmu Tata Bahasa Arab dan Fikih kepada pamannya KH. Rd. Qurtubi (Paman dari pihak Ibu) di Pesantren Pangkalan Tarogong.
Ketika ia menjadi santri di pesantren ini terdapat dua hal menarik: pertama; apabila sedang mengaji bersama-sama kawannya ia sering kelihatan oleh mereka tertidur, mereka mengira ia sedang tertidur pulas. Namun apabila disuruh membaca atau ditanya oleh gurunya, maka beliau langsung membaca atau menjawabnya.
Kedua pada suatu malam, ketika itu di Pesantren Pangkalan para santri sedang mengaji, tiba-tiba lampu yang ada di ruangan pengajian (madrasah) padam, ketika itu semua santri yang hadir dikagetkan oleh munculnya cahaya (sinar) dari tubuh seorang santri.
Kemudian seluruh santri yang ada mengerumuninya dan temyata tubuh santri yang memancarkan cahaya tersebut adalah KH. Badruzzaman muda.
Dari pesantren ini, KH. Badruzzaman muda pindah ke pondok yang diasuh oleh kakaknya, KH. Bunyamin (diken
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

