KH. Tubagus Achmad Chatib ibn Waseh al Bantani, lahir di Kampung Gayam, Desa dan Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, pada hari Ahad, bulan Mei 1890.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mengasuh Pesantren
3.2 Karier
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Tubagus Achmad Chatib ibn Waseh Al-Bantani, lahir di Kampung Gayam, Desa dan Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, pada hari Ahad, bulan Mei 1890. Ayahnya bernama KH. TB. Muhammad Waseh, seorang ulama terkenal di Pandeglang.
1.2 Wafat
KH. TB. Achmad Chatib wafat pada tanggal 20 Juni 1966, tepatnya saat pelantikan Presiden Soeharto, di kampung Gayam Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang.
1.3 Riwayat Keluarga
Pada usia 20 tahun, atau pada tahun 1910, KH. TB. Achmad Chatib dipinang oleh Ki Agung Caringin (KH. Asnawi) untuk dijadikan menantu dan menikah dengan Hj. Ratu Chasanah (Iyot). Hj. Ratu Chasanah bukanlah satu-satunya istri KH. TB. Achmad Chatib. Beliau mempunyai tiga orang istri.
Istri pertama bernama Hj. Ratu Chasanah atau Ibu Iyot. Mereka menikah pada usia 20/21 tahun dan memiliki dua orang anak, yaitu Sochari Chatib dan Ratu Ifat.
Istri kedua bernama Nyai Kamsah, yang dinikahi pada usia 50 tahun. Pernikahan ini terjadi saat KH. TB. Achmad Chatib sedang bergerilya di gunung. Saat merasa kelelahan, KH. TB. Achmad Chatib meminta seseorang untuk memijatnya. Karena hanya Nyai Kamsah yang bisa memijat di kampung tempat KH. TB. Achmad Chatib beristirahat, untuk menghindari fitnah dan menepati etika, beliau menikahinya terlebih dahulu. Dengan Nyai Kamsah, KH. TB. Achmad Chatib tidak memiliki keturunan.
Istri ketiga bernama Latifah. Saat menikahi Latifah, KH. TB. Achmad Chatib sudah pensiun dan Latifah baru berusia 13 tahun. Latifah adalah seorang anak yang biasa membantu KH. TB. Achmad Chatib dan oleh ayahnya kemudian dinikahkan dengan KH. TB. Achmad Chatib. Dari pernikahannya dengan Latifah, KH. TB. Achmad Chatib memiliki delapan orang anak, yaitu Hj. Ratu Tinty Fathinah Chatib, Hj. Ratu Fatiti Chatib, Hj. Ratu Faizah Chatib, Hj. Ratu Faiqoh Chatib, TB. Fadlullah Chatib (Alm), H. TB. Fathul 'Adzim Chatib, Ratu Faichah Chatib (Almh), dan Hj. Ratu Fashohah Chatib.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. TB. Ahmad Chatib menerima pendidikan pesantren sejak usia belia hingga dewasa. Sebagai anak yang lahir dalam keluarga santri, beliau mendapatkan pendidikan dasar agama dari ayahnya, KH. TB. Wasi’. Ayahnya mengajarkan dasar-dasar pengetahuan agama, mulai dari membaca Al-Qur'an hingga praktik dasar ibadah.
Untuk mematangkan pengetahuan agamanya, KH. TB. Wasi’ mengirimnya ke Pesantren Cibeber-Cilegon. Di sana, KH. TB. Ahmad Chatib belajar di bawah bimbingan KH. Abdul Latif, guru pertamanya di dunia pesantren. KH. Abdul Latif adalah seorang khalifah tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah yang mendapatkan ijazah dari Syekh Asnawi Caringin. KH. TB. Ahmad Chatib mempelajari kitab-kitab klasik sebagaimana umumnya diajarkan di pesantren-pesantren Banten.
KH. Abdul Latif adalah seorang mursyid dengan banyak murid tarekat yang tersebar di berbagai wilayah. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah KH. Muhaimi, penerusnya di Pesan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

