AGH. Huzaifah, lahir pada tahun 1939 di Desa Awangnipa Awangpone, kedua orang tuanya bernama H. Maruddin dan H. Becce. Nama Huzaifah adalah anugrah pemberian dari AGH. Muhammad As’ad, masa kecilnya beliau biasa dipanggil Setta atau Mustamin.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
AGH. Huzaifah, lahir pada tahun 1939 di Desa Awangnipa Awangpone, kedua orang tuanya bernama H. Maruddin dan H. Becce. Nama Huzaifah adalah anugrah pemberian dari AGH. Muhammad As’ad, masa kecilnya beliau biasa dipanggil Setta atau Mustamin. AGH. Muhammad As’ad selalu memberikan nama-nama yang bagus kepada santrinya yang dianggap nama itu tidak cocok baginya.
Seperti AGH. Mukthi Bandung (Imam Masjid Agung Bone 2015) juga diberi nama olehnya, dimana sebelumnya ia bernama Mapparimeng yang diambil dari Bahasa Bugis bermakna situasi yang terjadi ketika ia dilahirkan.
1.2 Riwayat Keluarga
AGH. Huzaifah menikah dengan seorang wanita shalehah bernama Hj. Siti Nurbaya dari pernikahan itu dikaruniai beberapa anak.
1.3 Wafat
AGH. Huzaifah berpulang ke Rahmatullahi pada 1998.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
AGH. Huzaifah berguru kepada AGH. Muhammad As’ad sekitar satu tahun atau lebih. Karena AGH. Muhammad As’ad meninggal pada tahun 1953. Keterlibatan keduanya sebagai guru dan murid dalam waktu singkat tidak ikut mempersingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh AGH. Huzaifah, bahkan ia mewarisi keahlian gurunya sebagai ahli faraidh ditambah, kekuatan hafalan Al-Qur'annya yang terkenal sangat lancar dan dilaluinya dalam waktu yang cukup singkat yaitu hanya enam bulan.
Sepeninggal AGH. Muhammad As’ad, Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang kemudian berganti nama dan pimpinan. Sehingga kemudian AGH. Huzaifah memperoleh ijazah Tsanawiyah pada tahun 1957, dengan nama MAI yang sudah berganti menjadi Madrasah As’adiyah (MA) Sengkang. Ketua panitia ujian Tsanawiyah (Perguruan Menengah) dalam ijazahnya tersebut bertanda tangan AGH. A. Junus Martan, penulis Hamzah Manguluang, Ketua Dewan Perguruan MA adalah AGH. Daud Ismail dan ketua MA adalah AGH. A. Junus Martan, yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 1957.
Pada tanggal 7 s/d 12 Juli tahun 1962 di Parepare, AGH. Huzaifah kembali mengikuti ujian akhir Madrasah Aliyah (Madrasah Menengah Atas Islam) di bawah naungan Lembaga Tarbiyah Darud Da’wah Wal-Irsyad, di mana ijazah ini ditanda tangani oleh KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dan penulis Amrullah Husain, BA. Hal ini menunjukkan bahwa AGH. Huzaifah tidak melanjutkan sekolahnya di Madrasah As’adiyah Sengkang melainkan memilih melanjutkan di Parepare. Terlihat jiwa petualangan sebagai penuntut ilmu yang merupakan tradisi para ulama terdahulu, di mana mereka tidak hanya berguru pada seorang ulama saja, melainkan berpindah-pindah dari satu ulama ke ulama lainnya.
Di Sengkang AGH. Huzaifah terhitung sudah berguru dan mengambil berkah dari beberapa ulama seperti; AGH. Muhammad As’ad, AGH. A. Junus Martan, dan AGH. Daud Ismail. Sangat berasalan jika kemudian beliau berpindah mencari ilmu dan mengambil berkah dari ulama ternam
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

