Tumbuh di lingkungan yang sarat akan ilmu agama membuat beliau berkembang menjadi sosok yang memiliki ilmu agama yang mendalam. Tidak tanggung-tanggung, di usia yang baru menginjak 14 tahun, beliau sudah hafal Al-Qur’an.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Murid-Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Pulang ke Indonesia
4.2 Mendirikan Pesantren
4.3 Mendirikan Masjid
5. Pesan-Pesan
6. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad As’ad lahir pada tanggal 6 Mei 1907/12 Rabiul Akhir 1326 H di Makkah, beliau adalah keturunan asli suku Bugis. Ayahnya Syekh Abdul Rasyid merupakan ulama Bugis yang bermukim di Makkah dengan Siti Saleha binti Haji Abdul Rahman yang bergelar Guru Terru Al-Bugisy.
1.2 Wafat
KH. Muhammad As'ad berpulang ke Rahmatullah pada hari Senin, 12 Rabiul Akhir 1372 H atau 28 Desember 1952 M dalam usia 45 tahun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Tumbuh di lingkungan yang sarat akan ilmu agama membuat beliau berkembang menjadi sosok yang memiliki ilmu agama yang mendalam. Tidak tanggung-tanggung, di usia yang baru menginjak 14 tahun, beliau sudah hafal Al-Qur’an. Bahkan saat usia 17 tahun beliau sudah dipercaya untuk menjadi imam shalat tarawih di Masjidil Haram.
Di sela-sela kesibukan belajar ilmu secara formal di Madrasah Al-Falah, beliau juga banyak berguru secara halaqah (mangaji tudang) di Masjidil Haram bersama ulama-ulama dari berbagai Negara. Di antaranya adalah Umar bin Hamdān, Sa’id Al-Yamāni, Hasyīm Nāzirin, Hasan Al-Yamāni.
KH. Muhammad As’ad telah mampu menghafal beberapa matan kitab antara lain Sullam Al-Manthiq, Manzhûmah Ibn Syahniah, dan Al-Nuhbah Al-Azhariyah yang dipelajari dari gurunya Syekh Ambo Wellang, seorang ulama Bugis yang bermukim di Makkah. Beliau pernah berguru pada tahun 1343 H. (1924 M), kepada seorang ulama besar Al-Allâmah Al-Syekh Abbâs Abdul Al-Jabbâr, dan pada tahun 1344 H. (1925 M), KH. Muhammad As’ad melanjutkan pelajarannya pada seorang ulama besar yaitu Syekh Mallawa (ulama Bugis).
Pada usia 18 tahun, KH. Muhammad As’ad memperdalam beberapa kitab dan juga memperoleh pengajaran dari Syekh Jamal Al-Makkî. Sebelum menyempatkan diri belajar pada seorang ulama besar di Madinah, KH. Muhammad As’ad masih sempat belajar pada seorang ulama besar, Syekh Abrâr untuk mendalami ilmu manthiq. Tidak hanya itu, semangat keilmuan beliau dan kecintaannya terhadap ulama mengantanya hijrah dari Makkah ke Madinah untuk berguru langsung ke salah satu ulama yang otoritatif dalam Hadis, yaitu Sayyid Ahmad Al-Syarif Al-Sanusi (1873-1933).
Sebelum KH. Muhammad As’ad pulang ke Indonesia (Sengkang-Wajo), beliau berguru langsung pada seorang ahli hadis, Syekh Ahmad Sanusi (Qadhi Medinah dan Pemimpin Tarekat Sanusiyah), dan sempat menjadi sekretaris pribadi gurunya selama beberapa waktu. Syekh Ahmad Sanusi termasuk ulama senior bermazhab syafiiyyah dan pemimpin tarekat Sanusiyyah. KH. Muhammad As’ad belajar selama 7 tahun dan menamatkan pendidikan formalnya di Madrasah Al-Fal
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

