KH. Muhammad Nawawi Umar beliau adalah Putra tunggal KH. Umar Sholeh, KH. Muhammad Nawawi Umar (akrab dipanggil Kang Em) telah berangkat ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan ayahanda dan ibunda tercintanya pada saat beliau baru saja baligh di usianya yang ke-15 tahun.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Nawawi Umar beliau adalah Putra tunggal KH. Umar Sholeh dengan Nyai Hj. ‘Aisyah binti KH Ahmad Syathori, KH. Muhammad Nawawi Umar (akrab dipanggil Kang Em) telah berangkat ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan ayahanda dan ibunda tercintanya pada saat beliau baru saja baligh di usianya yang ke-15 tahun.
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan seorang wanita sholehah bernama Nyai Hj. Afwah Mumtazah, S.Ag, dari pernikahan itu dikaruniai beberapa anak.
Pada tahun itu pula, tepatnya Hari Sabtu Pon Tanggal 17 Sya'ban 1414 H./ 29 Januari 1994 M. Beliau menikah dengan salah seorang putri bibi Beliau, Nyai Hj. ‘Izzah Syathori, yang bernama ‘Afwah Mumtazzah yang mana pada saat itu masih menyelesaikan studi S1-nya di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Suka), Yogyakarta. Pernikahan KH. Muhammad Nawawi ‘Umar dengan Nyai Hj. Afwah Mumtazzah S.Ag sampai saat ini telah dikaruniai dua orang keturunan yaitu:
- Aufa Najda Nawafy (Nada).
- Sholah Mafaza Muhammad (Ezza).
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Masa pendidikan Kang Ém dijalani hanya dengan bimbingan ayahandanya. Sebagai anak tunggal, Walid (begitu KH Umar Sholih biasa disebut) merasa keberatan ketika berulang kali Kang Ém matur izin untuk melanjutkan pendidikan dengan pindah ke Jawa Timur. Berulang kali pula Walid menolak dan tidak berkenan, tetapi karena keinginan yang amat kuat, diam-diam pernah Kang Ém pergi ke Tanggir (sebuah Pesantren di daerah Senori, Tuban, Jawa Timur) mengikuti jejak pamandanya KH. Ibnu ‘Ubaidiliah dan sepupu-sepupunya.
Hanya beberapa saat kemudian, Beliau kembali pulang karena dijemput oleh Walid dan Mi Is (Ny Hj Aisyah) ibundanya yang masih belum siap melepaskan Beliau pergi jauh. Semenjak itu Kang Ém hanya belajar pada ayahandanya saja dan Walid tidak pernah memulai pengajiannya sebelum Kang Ém hadir. Di usianya yang menginjak 20 tahun, Kang Ém mulai ikut ngaji kitab di pamannya yang telah kembali dari Mekkah di Arjawinangun secara ngelaju (pulang-pergi).
2.2 Guru-Guru:
- KH Umar Sholih
- KH. Ibnu ‘Ubaidiliah
3. Penerus Perjuangan
3.1 Anak-anak
- Aufa Najda Nawafy (Nada).
- Sholah Mafaza Muhammad (Ezza).
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
Ketika Beliau berumur sekitar 25 tahun-an Beliau mulai diaktifkan oleh Walid untuk membantu mengajar Al Qur an di Pesantren, kemudian berangsur-angsur satu persatu kitab-kitab kajian wajib
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

