Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Husin Ali, Pengasuh Pesantren Darussalam Martapura
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Husin Ali, Pengasuh Pesantren Darussalam Martapura

lahir 1908 M · 2.158 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Husin Ali atau yang lebih dikenal dengan Guru Husin Ali adalah anak seorang ulama Makkah keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bernama Syekh Ali Al Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al Mukarromah pada 6 Juli 1908 Masehi.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi
1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Husin Ali atau yang lebih dikenal dengan Guru Husin Ali adalah anak seorang ulama Makkah keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bernama Syekh Ali Al-Banjari. Beliau dilahirkan di Makkah Al-Mukarromah pada 6 Juli 1908 Masehi.

Ketika Guru Husin Ali berusia 8 tahun, tepatnya di tahun 1916, situasi Tanah Haram sedang tidak kondusif. Hal itu diakibatkan pecahnya perang saudara antara kubu Syarif Husein (Turki Usmani) dengan kubu Muhammad Su’ud bin Abdul Aziz.

Melihat kondisi itu, Syekh Ali Al-Banjari menyerahkan Guru Husin Ali kecil pada sahabatnya (Syekh Kasyful Anwar Al-Banjari) untuk dibimbing ilmu agama di Tanah Banjar.

1.2 Riwayat Keluarga
KH. Husin Ali menikah dengan seorang wanita sholehah dari pernikahan itu dikaruniai beberapa anak.

1.3 Wafat
Menjelang wafat, KH. Husin Ali berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Sebelumnya, beliau menyempatkan diri ke tempat KH. Muhammad Syarwani Abdan di Bangil, Surabaya. Dari Surabaya, mereka bersama-sama berangkat menuju Tanah Suci.

Diceritakan KH. Syaifuddin Zuhri, selepas menunaikan ibadah haji, KH. Guru Husin Ali menunjuk beberapa orang untuk memandikan jenazahnya, sebelum beliau wafat. Di antara yang diminta beliau untuk memandikan jenazah beliau adalah KH. Muhammad Syarwani Abdan.

Firasat tentang kewafatan itu ternyata benar adanya, sebab tak lama kemudian, KH. Husin Ali benar-benar wafat. Jenazah beliau dishalatkan di Masjidil Haram, Mekkah.

Saat itu, menurut Pengasuh Majelis Bani Ismail Banjarmasin itu, keganjilan kembali mengiringi proses pemakaman. Tiba-tiba saja, ada banyak orang mengiringi pemakaman KH. Husin Ali.

"Tuan Guru (KH Muhammad Syarwani Abdan, red) ketika ditanya juga mengaku tidak tahu dari mana asal orang-orang itu," jelas pengasuh Majelis Bani Ismail, Banjarmasin.

Jenazah KH. Husin Ali dimakamkan di Pemakaman Ma'la, Makkah. Tidak jauh dari makam ayah beliau (Syekh Ali Al-Banjari), kakek beliau (Syekh Abdullah 'Wujud' Al-Banjari), dan ulama asal Indonesia lainnya, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Di bawah bimbingan Syekh Kasyful Anwar, Guru Husin Ali tumbuh menjadi sosok sesuai harapan Syekh Ali. Yakni, alim dan hafal Qur’an.

Selain belajar pada Syekh Kasyful Anwar dan nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, beliau juga belajar pada Syekh Abdul Hamid Makkah. Kepada Syekh Abdul Hamid, KH. Husin Ali belajar Ilmu Mantiq (logika).

2.2 Guru-Guru:

  1. Syekh Kasyful Anwar
  2. Syekh Abdul Hamid Makkah

3. Penerus Perjuangan

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+