Kyai Tamyiz Kasnawi lahir pada Tahun 1917 M di Desa Jogoloyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak, dari pasangan Kyai Kasnawi dan Ibu Rasinah, nama kecil beliau adalah Kamyis
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Kyai Tamyiz Kasnawi lahir pada Tahun 1917 M di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, dari pasangan Kyai Kasnawi dan Ibu Rasinah, nama kecil beliau adalah Kamyis
1.2 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan Nyai Fadlun putri Bapak Ahmad Dahlan Jogoloyo pada tahun 1938 dari pernikahan itu dianugerahi putra-putri beliau yang berjumlah 8, nama-namanya sebagai berikut:
- Rohmah (meniggal dunia pada waktu masih kecil)
- K. Abdul Mu’thi Tamyiz
- K. Abdul Wahid Tamyiz
- Ibu Nyai Muhoyaroh Tamyiz
- KH. Humaidi Tamyiz
- Ibu Masruroh Tamyiz
- Ibu Nyai Hj. Munafiah Tamyiz
- Abu said (meninggal dunia pada waktu masih kecil)
Menurut keterangan KH. Humaidi Tamyiz yang diperkuat oleh Ibu Nyai Hj. Muhasin, setelah Ibu Nyai Fadlun meninggal, KH. Muslih Mranggen Demak sang guru tercinta K. Tamyiz mempunyai inisiatif untuk menikahkan K. Tamyiz dengan adik Ibu Nyai Fadlun yang bernama Ibu Nyai Hj. Muhasin. Dan untuk selanjutnya pernikahan pun dilaksanakan. Dengan Ibu Nyai Hj. Muhasin K. Tamyiz dikaruniayai 5 anak yaitu:
- Misbah (meninggal dunia waktu masih kecil)
- Ibu Nyai Bariroh Tamyiz
- K. Ahmad Khotib Tamyiz
- K. Muhtar Tamyiz
- K. Ahmad Tamyiz.
1.3 Wafat
Beliau wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1396 H bertepatan 2 September 1976 M , pada usia 59 tahun.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Beliau sejak kecil sudah belajar ilmu agama, di antaranya adalah beliau sering diajak oleh ayahnya Kasnawi ke Semarang untuk ikut ngaji di hadapan Syekh Sahli Kauman Semarang dengan berjalan kaki setiap hari Selasa dan Jum’at. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di tempat Kyai Rozikhan Karangasem Mangunjiwan Demak.
Seiring waktu yang terus berjalan, rasa ingin tau beliau pun semakin mendalam. Maka beliau melangkahkan kaki untuk memenuhi kehausan terhadap ilmu yang semakin tak tertahankan. Menghadapkan diri di Pondok Kembangan Demak, untuk menimba ilmu dan kebijaksanaan KH. Ahmad Badawi Rofi’i yang akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Badawi. Di Pondok Kembangan inilah akhirnya mengantarkan beliau menjadi murid kinasihnya Mbah Badawi karena ketulusan mengabdi. Sehingga mendapat hadiah nama dari Kamyis menjadi Tamyiz.
Mencari ilmu adalah tidak ada batasnya, sehingga setelah dari Kembangan beliau juga belajar di tempat simbah KH. Baidlowi Lasem mertua Simbah KH. Maimun Zubair Sarang untuk Hataman kitab Fathul Wahab dan Iqna’.
Saat sang guru yang menjadi tumpuan dan pedoman beliau, yaitu KH. Ahmad Badawi Rofi’i, kembali ke Sisi Allah Yang Mencipta Alam Semesta. Beliau merasa kehilangan Sang Pembimbing dalam mengarungi kehidupan di dunia f
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

