Syekh KH Muslih Abdurrahman Ulama Mranggen Demak Jawa Tengah
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Muslih al-Maraqi
- Kelahiran
- Nasab
- Wafat
- Pendidikan
- Pengasuh pesantren
- Selalu Memberi Makna Gandul
- Sosok Ahli Tarekat
- Karya-Karya
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Muslih Abdurrahman atau yang kerap disapa dengan KH. Muslih al-Maraqi lahir pada tahun 1908 di perkampungan Suburan, Mranggen, Demak, sekitar 13 KM. sebelah timur Semarang. Mengenai tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti.
Nasab
Dari Segi nasab, KH. Muslih al-Maraqi merupakan perpaduan antara ulama dan bangsawan di masanya. Dari garis keturunan ayah, ia memiliki silsilah dari Abdurrahman bin Qasid al-Hag bin Wiryo Kusumo atau yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sedo Krapyak bin Pangeran Sujatmika (Wijil 11/ Notonegoro II) bin Pangeran Sabrang bin Ketib bin pangeran Hadi bin Sunan Kalijaga, hingga Ranggalawe (Adipati Tuban) atau Syekh alJali (al-Khawaji) dari Baghdad, yang memiliki rentetan silsilah sampai pada Sahabat Abbar (Paman Nabi).
Wafat
Pada musim haji 1981, al-Maraqi memejamkan matanya untuk selama-selama. Jenazahnya dikebumikan di Mala, Mekkah. la sangat dihormati oleh para mukimin atau orang-orang Indonesia yang bermukim di Mekkah, dan setiap tahunnya selalu diperingati hari wafatnya oleh keluarga besar Futuhiyyah.
Pendidikan
KH. Mushlih al-Maraqi memulai pendidikanya dengan belajar kepada orangtuanya sendiri, Kiai Abdul Rahman bin Gasid al-Hag Kemudian, ia mulai melakukan perjalanan intelektual dengan nyantri kepada Kiai Ibrahim Yahya, Brumbung, Mranggen.
Sewaktu menjadi murid Kiai Ibrahim inilah, ia diajak menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya. Merasa belum cukup dengan ilmu yang dimiliki, Kiai Mushlih al-Maraqi memperluas cakrawala ilmu agama dengan berkelana ke banyak kiai dan pesantren di luar Mranggen. Pertama kali ia belajar di Pesantren Mangkang Kulon, sebelum berturut-turut nyantri kepada Kiai Zubeir dan Syekh Imam di Sarang, di samping menjadi santri kalong (tidak bermukim) di pesantren Kiai Ma'shum (Lasem).
Selanjutnya, pada tahun 1931, ia kembali ke Mranggen dan turut serta mengabdikan ilmunya di pesantren keluarganya. Setelah beberapa tahun di Mranggen, ia kembali menuntut ilmu di Pesantren Tremas yang ketika itu diasuh oleh Kiai Dimyati.
Ketika di Tremas inilah ia berjumpa dengan Kiai Ali Maksum, putra gurunya sewaktu menjadi santri kalong di Lasem. Hubungan Kiai Ali dengan Kiai Mushlih al-Maraqi terhitung cukup dekat. Sewaktu Kiai Ali menjadi kepala Madrasah di Tremas, Kiai Mushlih al-Maraqi diminta menggantikan tugasnya untuk mengajar ilmu nahwu Al-Fiyah ibn Malik. Konon, ketika Kiai Mushlih al-Maraqi diminta mengajarkan kitab Al-Fiyah, ia sempat pucat-pasi. Maklumlah, baru pertama kalinya ia dituntut mengajarkan materi pelajaran, sementara ia sendiri sedang dalam proses mendalaminya.
Berkat dorongan dan motivasi Kiai Ali, akhirnya Kiai Mushlih al-Maraqi menerima tugas itu. Ia pun mulai mempelajari Al-Fiyah secara otodidak selama tujuh hari, tanpa keluar dari kamarnya sama sekali. Hasilnya, ia mampu menguasai pengajaran Al-Fiyah dengan baik dan sempurna, sehingga para muridnya antara lain mantan Menteri Agama RI, Mukti Ali, tertarik dengan sis
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

