KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah Pabuaran Beliau anak pertama dari pasangan R H Muhammad Syahri bin Nasib yang berasal di Cipanas Cianjur dan Ibu Hj Siti Fatimah berasal di Gunung Puyuh . yang lahir pada tanggal 5 Februari 1917 di Gunung Puyuh Kota Sukabumi.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Karier
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah Pabuaran merupakan anak pertama dari pasangan R. H. Muhammad Syahri bin Nasib yang berasal di Cipanas Cianjur dan Ibu Hj. Siti Fatimah berasal di Gunung Puyuh. KH. R. Ahmad Djunaidi lahir pada tanggal 5 Februari 1917 di Gunung Puyuh Kota Sukabumi.
1.2 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1939 beliau menikah dengan putri asuhnya KH. R. Abdullah yang bernama Hj. Zaenab Zakiyyah binti KH. Ismail, buah dari pernikahannya beliau dikaruniai 10 anak.
1.3 Wafat
Beliau berpulang ke Rahmatullahi pada usia hampir 90 tahun, tepatnya tanggal 24 Agustus 2005/19 Rajab 1426 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Taman Bahagia Kota Sukabumi.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pendidikan pertamanya dimulai dari Sekolah Ahmadiyyah Juwaeniyyah di bawah asuhan KH. R. Ahmad Juwaeni bin Qodhi Husein, setelah lulus sekolah kemudian meneruskan mondok di Pesantren Gentur Cianjur di bawah asuhan KH. Ahmad Satibi (Mama Kaler), tak sampai di situ kemudian melanjutkan kembali rihlah ilmiyahnya ke Pesantren Ma’ariful Qur’an Pabuaran Sukabumi di bawah asuhan KH. R. Abdullah bin Qodli Husein adik dari KH. R. Ahmad Juwaeni.
Kehausan beliau terhadap ilmu tak menjadikannya terhenti begitu saja, kali ini pondok yang beliau singgahi adalah Pondok Pesantren Keresek Garut. Menurut penuturan salah satu putrinya, sewaktu di Pondok Keresek Garut, beliau sekamar dengan santri yang berasal dari Sukabumi juga, yang kemudian menjadi ulama di Sukabumi, yaitu KH. Haromain Cihingkik, setelah di Pondok Keresek, kemudian kembali lagi ke Pesantren Pabuaran.
2.2 Guru-Guru
1. KH. R. Ahmad Juwaeni bin Qodhi Husein.
2. KH. Ahmad Syatibi (Mama Kaler).
3. KH. R. Abdullah bin Qodli Husein
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah bersama ulama Sukabumi aktif memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga pada tahun 1990 beliau mendapatkan Piagam Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan 45. KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Agama Sukabumi dan menjadi Kepala Urusan Agama Jawa Barat, meskipun begitu beliau adalah sosok yang sederhana dan rendah hati yang melekat pada dirinya.
KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah pada zamannya menjadi tokoh sentral Kota Sukabumi, tak sedikit para ulama dan pejabat mendatanginya untuk sekedar dimintai doa. Bahkan ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Sukabumi pada tahun 1953, dan menunaikan Shalat Idul Adha di Lapangan Merdeka Sukabumi, KH. R. Ahmad Djunaidi Rodlibillah lah yang dipercaya menjadi imamnya meskipun waktu itu usianya masih tergolong muda.
Beliau berjuang menyabarkan ajaran Islam bersama kyai lain yang ada di Sukabumi sepert
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

