KH. Bustani Qadri lahir di Sapat, Kuala Indragiri pada tahun 1921. Sejak kecil beliau telah memperoleh didikan dari keluarganya yang agamis. KH. Bustani Qadri merupakan anak kedua dari pasangan H. Qadri (keturunan Banjar Amuntai) dan Hj. Ruqayah binti Ibrahim.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus
3.1 Anak-Anak
3.2 Murid-Murid
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
4.3 Karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Bustani Qadri lahir di Sapat, Kuala Indragiri pada tahun 1921. Sejak kecil beliau telah memperoleh didikan dari keluarganya yang agamis, beliau merupakan anak kedua dari pasangan H. Qadri (keturunan Banjar Amuntai) dan Hj. Ruqayah binti Ibrahim.
1.2 Riwayat Keluarga
Di tahun 1943 beliau menikah dengan Hj. Fatimah dan dikaruniai enam orang anak: Faridah, Anwar, Azizah, Ferrial, Nurlaili, dan Ahmad Riva’at. KH. Bustani juga dianugrahi 27 orang cucu, dan 11 orang cicit. Di antara keturunannya yang menjadi tokoh agama di Indragiri Hilir dan melanjutkan perjuangannya adalah Ustadz H. Ahmad Riva’at, Ustadz H. Ahmad Rivani, dan Ustadz H. Ahmad Khusyairi.
1.3 Wafat
KH. Bustani Qadri wafat pada usia 82 tahun, beliau menghembuskan nafas terakhir di Sorek dalam perjalanan pulang menujur Tembilahan, setelah menjalani pengobatan di salah satu Rumah Sakit di Pekanbaru. Tepatnya pada hari Jum’at 8 Agustus 2003 (9 Jumadil Akhir 1424 H). Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keluarga di Jl. Gerilya, Gg. Berkah, Parit 5, Tembilahan Hulu.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sekitar tahun 1928 atau ketika KH. Bustani berusia kurang lebih 7 tahun, ia beserta keluarganya berangkat menunaikan ibadah haji di Makkah. Di Makkah inilah pada salah satu malam di Bulan Ramadhan beliau terbangun dan menyaksikan sendiri cahaya terang benderang di langit Makkah, padahal waktu itu masih minim penerangan. Keesokan harinya beliau yang masih anak-anak itu bercerita kepada orang tuanya, tentang peristiwa tersebut.
Orang tua beliau menduga bahwa itulah salah satu tanda malam Lailatul Qadar dan anaknya telah menyaksikan peristiwa yang istimewa itu. Orang tuanya bertanya, apakah ia ada berdoa meminta sesuatu? Ia menjawab dengan polos, tidak ada. Kendati demikian, tampaknya keistimewaan malam tersebut hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan, hingga akhirnya beliau menjadi Kyai terkenal dan memiliki banyak murid di Indragiri Hilir.
Di Makkah ini KH. Bustani Qadri sempat mengenyam pendidikan formal di Madrasah Dar Al-Ulum Al-Diniyah. Sebuah institusi Pendidikan yang pernah dipimpin oleh Musnid Al-Dunya (ahli sanad dunia) Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani (w. 1990). Menurut ketarangan Darsani (menantu KH. Bustani Qadri), bahwa mertuanya ini tidak sempat tamat di Dar Al-Ulum, tetapi hanya sampai kelas empat, kemudian pulang ke Singapura dan ke Sapat Indragiri. Ia menuturkan pula, meski demikian ilmunya sudah cukup luar biasa bahkan sampai menjadi tokoh ulama di Indragiri Hilir.
KH. Bustani Qadri memang memiliki kecerdasan dan daya ingat yang mengagumkan. Ketika berusia 13 tahun ia telah hafal Al-Qur’an 30 Juz. Selain itu, kemerduan suara dan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

