KH. Badruddin (Guru Ibad) lahir dari keluarga besar ulama terkemuka di Martapura. Putra KH Ahmad Zaini dari Tunggul Irang dan darah keulamaan juga berasal sang kakek, KH Abdurrahman. Guru Ibad lahir di Martapura pada 29 Zulqaidah 1355 atau 11 Februari 1937. Pesantren Darussalam Martapura
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mengasuh Pesantren
4.2 Karier
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Badruddin (Guru Ibad) lahir dari keluarga besar ulama terkemuka di Martapura, yakni KH. Ahmad Zaini dari Tunggul Irang dan darah keulamaan juga berasal sang kakek, KH. Abdurrahman. Guru Ibad lahir di Martapura pada tanggal 29 Dzulqoidah 1355 atau 11 Februari 1937.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Badruddin (Guru Ibad) menikahi seorang wanitah sholehah, dari pernikahan itu beliau dikaruniai beberapa anak.
1.3 Wafat
KH. Badaruddin berpulang ke rahmatullah pada tanggal 27 Jumadil Akhir tahun 1413 H dimakamkan di desa kelahiran sendiri, Tunggul Irang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Sejak kecil KH. Badaruddin sudah belajar mengaji kitab suci Al-Qur’an dan beberapa ilmu pengetahuan agama dasar lainnya, baik dengan ayah beliau sendiri, KH. Ahmad Zaini, maupun dengan kakek beliau, KH. Abdurrahman, yang populer dengan julukan Tuan Guru H. Adu Tunggul Irang.
Setelah memiliki pengetahuan agama secara mendasar melalui pendidikan dalam keluarga itu, KH. Badaruddin memasuki pendidikan formal, yaitu pada Madrasah Iqdamul Ulum di kampung halaman sendiri, Tunggul Irang. Beliau belajar dengan rajin sekali dan sangat bersungguh-sungguh, hingga oleh kedua orang tuanya dimasukkan lagi ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
KH. Badaruddin belum merasa puas dengan menggali dan memperdalam ilmu agama Islam di tanah air sendiri, sehingga untuk memenuhi hasrat hati dalam menuntut ilmu tersebut, kemudian diperkuat dengan dukungan keluarga, beliau pun berangkat meninggalkan Indonesia menuju Makkah, Saudi Arabia. Persis setelah tamat dari Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, beliau pergi meneruskan pelajarannya di Madrasah Shalatiah di tanah suci umat Islam tersebut selama dua tahun.
Meski menempuh pendidikan non formal di Madrasah Iqdamul Ulum dan Pondok Pesantren Darussalam, hingga menimba ilmu di Kota Makkah, Arab Saudi dan kembali ke kampung halaman, hingga berguru ke ulama terkemuka, di antaranya kepada sang kakak, KH. Husein Qadri, KH. Anang Sya’rani Arif, KH. Muhammad Samman Mulia, KH. Salim Ma’ruf dan beberapa ulama serta habaib di Pulau Jawa, mengasah keahlian dalam ilmu agama.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Ahmad Zaini
2. KH. Abdurrahman julukan Tuan Guru H. Adu Tunggul Irang
3. KH. Husein Qadri
4. KH. Anang Sya’rani Arif
5. KH. Muhammad Samman Mulia
6.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

