Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Ahmad Baidhawi Asro
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Ahmad Baidhawi Asro

1898 – 1955 M · 20.691 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Kiai Baidhawi lahir di Banyumas, Jawa tengah, pada tahun 1898 M. Ayahnya, Kiai Asro, merupakan kiai yang sangat terkenal di Banyumas. Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Baidhawi Asro

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mengasuh Pesantren

Kelahiran

KH. Ahmad Baidhawi Asro lahir pada tahun 1898 M di Banyumas, Jawa tengah. Beliau merupakan putra dari Kiai Asro, kiai yang sangat terkenal di Banyumas.

Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Wafat

Jumat sore di tahun 1955, cuaca di langit Tebuireng terasa sejuk. KH. Ahmad Baidhawi Asro, yang pada siang harinya menjadi imam salat jumat dan ikut mendoakan korban bencana di Aceh, pada sore harinya mengalami demam tinggi. Demam itu terus dirasakan hingga malam hari.

Pada pertengahan malam, para santri dikejutkan oleh berita bahwa KH. Ahmad Baidhawi Asro telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa Inna ilahi Raji’un.

Jenazah KH. Ahmad Baidhawi Asro dikebumikan di area pemakaman keluarga di tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Pada batu nisannya tertulis angka 8. Pesantren Tebuireng benar-benar merasa kehilangan, karena sejak saat itu Tebuireng hanya memiliki beberapa kiai yang termasuk pengajar kitab tingkat tinggi. Yaitu KH. Idris Kamali, KH. Adlan Aly, KH. Karim Hasyim, dan KH. Abd Mannan.

Keluarga

Sekembalinya dari Mesir, KH. Ahmad Baidhawi Asro mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mengajar. Tak lama kemudian, Hadratussyekh KH. Hasyim menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Buah dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri, yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dikaruniai anak yang ke-6, Nyai Aisyah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kesedihan melanda keluarga besar Kiai Baidhawi.

Atas restu keluarga, KH. Ahmad Baidhawi Asro kemudian menikah lagi dengan Nyai Bani’, adik Kiai Mahfudz Anwar (Seblak). Dari perkawinan ini Kiai Baidhawi dikaruniai seorang putri bernama Muniroh.

Kemudian KH. Ahmad Baidhawi Asro menikah lagi dengan keponakan Kiai Mahfudz Anwar bernama Nadhifah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putra-putri, yaitu Muthohar, Hafsoh, Munawar, Munawir, dan Fatimah.

Pendidikan

KH. Ahmad Baidhawi Asro memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirep (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah.

Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+