Biografi KH. Idris Kamali

 
Biografi KH. Idris Kamali

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera dan puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier Beliau
4.1.      Asisten Pengasuh Pesantren Tebuireng 
4.2       Pengasuh Pesantren 

5.         Teladan Beliau 

6          Karomah Beliau 
6.1       Bisa Menghadirkan Uang
6.2       Setan Takut dengar Nama Kiai Idris   
6.3       Ngaji Langsung kepada Imam Syafi'i

7          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Idris Kamali merupakan anak pertama dari pasangan KH. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dengan Nyai Saudah. Beliau dilahirkan di Makkah sekitar tahun 1887. Beliau satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Ayahnya, Kiai Kamali adalah putra Kiai Abdul Jalil Kedondong Cirebon. Ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Sedangkan kakeknya, Kiai Abdul Jalil berasal dari Ndoro, Pekalongan. Saat masih muda, kakeknya sering pergi ke Kedondong salah satu daerah di Cirebon, dan mendirikan pondok di daerah tersebut. Kiai Abdul Jalil dikaruniai dua anak yang bernama Kiai Kamali dan Kiai Harun.

1.2       Riwayat Keluarga

Setelah menjadi asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok, tidak lama kemudian KH. Idris Kamali  dijodohkan dengan putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di akhir tahun 1920-an. Putri keempat pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung KH. Abdul Wahid Hasyim.

Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu-satunya, yang bernama Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). KH. Idris Kamali dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, KH. Idris Kamali tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

1.3       Wafat

Pada 1981, ulama yang tawaduk itu menuntaskan rihlah keilmuannya di Haramain. Alih-alih Tebuireng, kali ini dirinya mengamalkan ilmu di tempat asal keluarganya, Cirebon. Di sanalah Kiai Idris terus berkiprah hingga ajal menjemputnya pada Juli 1984. Beliau tersebut wafat dalam usia lebih dari 90 tahun. Jenazahnya dikebumikan di kompleks permakaman keluarga di area Pondok Pesantren Kempek, Cirebon.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Sekitar tahun 1908 Kiai Kamali dan keluarganya pulang ke Cirebon. Di Pesantren KH. Idris Kamali  digembleng sendiri oleh ayahnya. Kiai Kamali memondokkan KH. Idris Kamali di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal. Pesantren APIK sendiri diasuh oleh KH. Irfan Musa (wafat 1931) yang merupakan sahabat Kiai Kamali sewaktu di Mekkah. Setelah beberapa tahun mondok di Pesantren APIK, KH. Idris Kamali  dipercaya menjadi Lurah Pondok Pertama oleh Kiai Irfan pada tahun 1919.

Karena menurut KH. Irfan, Kiai Idris sudah menunjukkan tanda-tanda dirinya sebagai orang alim.

“Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal al-Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yang juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, KH. Idris Kamali  kemudian meneruskan ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke KH. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama.

Selama nyantri, KH. Idris Kamali dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya.

Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal al-Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau dipercaya sebagai asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Selain itu, KH. Idris Kamali juga merupakan sosok kiai yang gemar membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab-kitab tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadi rujukan dalam kegiatan-kegiatan bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indoneisa dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, beliau hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukim di Mekkah, beliau sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam Syafi’i di Kairo.

Ketika di Mekkah, Kiai Said Aqil juga menyempatkan diri ikut mengaji kitab Shahih Bukhari dan Ihya’ Ulumiddin ke Kiai Idris. Di Mekkah,KH. Idris Kamali menghabiskan waktunya di Masjidil Haram setiap saat. KH. Idris Kamali ketika di Mekkah tinggal di rumah Syaikh Khatib al-Maduri. Beliau tinggal satu rumah dengan Prof. Dr. Djamaluddin Mirri, Rektor Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Dekan Fak. Ushuluddin IAIN Surabaya.

Tahun 1981 KH. Idris Kamali kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, beliau hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yg terkenal itu. Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

2.2        Guru-Guru Beliau

  1. Kiai Kamali
  2. KH. Irfan Musa
  3. KH. Hasyim Asy’ari.

2.3          Mengasuh Pesantren 

Beliau dipercaya sebagai asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok pesantren Tebuireng.
Tahun 1981 KH. Idris Kamali kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yg terkenal itu. Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

3          Penerus Beliau

3.1       Putera dan puteri Beliau

Putera beliau bernama:

Abdul Haq

3.2       Murid-murid Beliau

Pada tahun 1940-an, KH. Idris Kamali  mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, KH. Idris Kamali pun untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra KH. Hasyim Asy’ari itu meminta KH. Idris Kamali  mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yg dimotori oleh KH. Idris Kamali bersama beberapa kiai.

KH. Idris Kamali sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah. Namun demikian, beliau menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali kelas musyawarah yang dulu diselenggarakan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi KH. Idris Kamali. Meskipun beliau menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH. Kholiq Hasyim. Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki KH. Idris Kamali dan didorong rasa keprihatinannya, maka beliau memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan menjadi ulama.

Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu, beliau membuat persyaratan yang cukup ketat. Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun, kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri KH. Idris Kamali, ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah, keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa, kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar, keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu bersama beliau di masjid, dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai.

Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, KH. Idris Kamali juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yg terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab. Ada banyak santri beliau yg kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Dan masing-masing santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin misalnya lebih mewarisi keilmuan fiqih KH. Idris Kamali. Dan memang beliau digembleng oleh KH. Idris Kamali untuk ahli dalam itu fiqih. Sejumlah kitab-kitab fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna dibaca Kiai Makruf di hadapan gurunya itu.

Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran KH. Idris Kamali dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dengan pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit KH. Idris Kamali sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, KH. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Beliau jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri-santrinya.

Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada tamu agung datang dan hendak beliau temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh KH. Idris Kamali . Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari.

Diantara murid-murid beliau :

  1. KH. Aqiel Siradj (Cirebon)
  2. KH. Abdul Hayyie M Naim (Cipete Jakarta)
  3. Prof. DR. KH. M Tholhah Hasan MA (Malang)
  4. Prof. DR. KH. Mustofa Ali Yaqub, MA (Tangerang)
  5. KH. Zubaidi Muslih (Jombang)
  6. Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin
  7. KH. Abdur Rasyid Maksum (Jakarta)
  8. Prof. DR. HM. Djamaluddin Mirri, MA. (Surabaya),
  9. KH. Makmun Mahbub (Tegal)
  10. KH. Ishaq Latif (Tebuireng)
  11. KH. Syuhada Syarif (Jember)
  12. DR. KH. Mustain Syafi’i, MA
  13. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
  14. KH. Habib Usman Yahya Cirebon
  15. Kiai Muhid Kebon Gadang
  16. KH. Habib Ahmad (Jombang)
  17. KH. Abdurahim (Pasuruan)
  18. Kiai Ismail (Tegal)
  19. KH. Agus Cecep Karim Hasyim (Jombang)
  20. KH. Qamuli Khudhari
  21. KH. Yahya Masduqi (Cirebon)
  22. Prof DR KH. Said Aqil Siraj, MA (berguru saat Kiai Idris bermukim di Makkah dan ngaji kitab sahih bukhari dan sahih muslim di masjid tebuireng)

4          Karier Beliau

4.1.      Asisten Pengasuh Pesantren Tebuireng

Beliau dipercaya sebagai asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok pesantren Tebuireng.

4.2.      Pengasuh pesantren Kempek Cirebon

Tahun 1981 KH. Idris Kamali kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yg terkenal itu. Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

5.         Teladan Beliau 

Teladan KH. Idris

Dalam hal ibadah salat menurut keterangan Kiai Dimyati Rois, KH. Idris Kamali  dikenal sangat lama dalam melakukan ibadah shalat. Bila kebiasaan para kiai membaca bacaan ruku’ dan sujud sebanyak 3 atau 10 kali tetapi Kiai Idris membacanya sampai 33 kali. Sehingga terkadang santri-santri yang makmum kepada beliau kecelik (terkecoh). Beliau belum bangun dari ruku’ atau sujud, santri-santri keburu bangun dari ruku’ atau sujudnya.

KH. Idris Kamali  adalah sosok yang sederhana dalam hal penampilan, beliau sama sekali tidak terlihat seperti ulama besar yang memakai sorban besar. Beliau hanya memakai imamah (sorban) biasa dan sarung. Tetapi kalau ada orang yang tahu tentang kema’rifatan KH. Idris Kamali , jika beliau berjalan saja, maka orang pasti akan bersalaman dengan beliau meskipun tidak kenal. Banyak sekali ulama Arab, seperti ulama Mekkah, Syiria, Mesir, Palsetina, dll. yang menyalami tangan beliau padahal belum pernah ketemu.

KH. Idris Kamali adalah kiai yang hidupnya dikhidmahkan untuk mengaji kitab, mengajar dan beribadah. Beliau telah banyak membaca berbagai kitab disiplin ilmu yang beraneka ragam. Banyak kitab beliau khatamkan berkali-kali. Saking seringnya mengkhatamkan kitab, seakan-akan beliau hafal isi kitab. Ketika ada santrinya yang membaca kitab kepada beliau, lalu bacaannya salah, maka KH. Idris Kamali tahu kesalahannya, padahal beliau sering kali hanya menyimak bacaan santrinya tanpa melihat kitab. Kelebihan lain, beliau dapat mengetahui jika ada kitab salah cetak.

6          Karomah Beliau 

6.1       Bisa Menghadirkan Uang

Menurut Kiai Said Aqil Siradj, Kiai Idris mempunyai kelebihan atau karomah yaitu sebagai sosok kiai yang memberi uang kepada orang-orang yang membutuhkannya. Beliau melakukan hal tersebut dengan hanya dengan ngronggoli (asal ambil saja). Anehnya setiap beliau mengambil pasti nominalnya pas seperti yang dikehendaki.

6.2       Setan Takut Dengar Nama Kiai Idris

Banyak cerita unik tentang sosok Kiai Idris, salah satunya di Pesantren Kempek. Suatu ketika ada jin yang mengganggu suasana pondok. Semua panik, tanpa pikir panjang Kiai Said Aqil maju sambil berteriak, “Saya adukan kamu ke Mbah Idris!!!” Mendengar kata-kata saya, jin yang mengganggu itu lari dan tidak berani kembali. Ini terjadi sampai sekarang, kalau nama Kiai Idris disebut maka jin akan takut. Ayah saya, Aqil Siradj, adalah santri Kiai Idris.

 6.3       Ngaji Langsung Kepada Imam Syafi’i

Ayah saya mengaji kepada Kiai Idris waktu nyantri di Pesantren Kempek. Suatu ketika di saat bulan Ramadhan, Kiai Idris pergi ke Mesir hanya untuk mengkhatamkan kitab al-Umm di samping makam Imam Syafi’i. Ketika kembali ke Mekkah, Kiai Idris cerita tentang hal itu kepada saya, “Kalau bacaan saya salah, dibenarkan oleh Imam Syafi’i”.

7          Referensi

https://www.facebook.com/aummf/posts/4281560371963461

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya