Biografi KH. Idris Kamali

 
Biografi KH. Idris Kamali

Daftar Isi Profil KH. Idris Kamali

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Murid-Murid
  5. Karomah KH. Idris

Kelahiran

KH. Idris Kamali merupakan anak pertama dari pasangan KH. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dengan Nyai Saudah. Beliau dilahirkan di Makkah sekitar tahun 1887. Beliau satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Ayahnya, Kiai Kamali adalah putra Kiai Abdul Jalil Kedongdong Cirebon. Ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Sedangkan kakeknya, Kiai Abdul Jalil berasal dari Ndoro, Pekalongan. Saat masih muda, kakeknya sering pergi ke Kedondong salah satu daerah di Cirebon, dan mendirikan pondok di daerah tersebut. Kiai Abdul Jalil dikaruniai dua anak yang bernama Kiai Kamali dan Kiai Harun.

Keluarga

Setelah menjadi asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok, tidak lama kemudian Kiai Idris dijodohkan dengan putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di akhir tahun 1920-an.

Putri keempat pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung KH. Abdul Wahid Hasyim.

Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu-satunya, yang bernama Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). Kiai Idris dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, Kiai Idris tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

Pendidikan

Sekitar tahun 1908 Kiai Kamali dan keluarganya pulang ke Cirebon. Di Pesantren Idris digembleng sendiri oleh ayahnya. Kiai Kamali memondokkan Kiai Idris di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal. Pesantren APIK sendiri diasuh oleh KH. Irfan Musa (wafat 1931) yang merupakan sahabat Kiai Kamali sewaktu di Mekkah. Setelah beberapa tahun mondok di Pesantren APIK, Kiai Idris dipercaya menjadi Lurah Pondok Pertama oleh Kiai Irfan pada tahun 1919.

Karena menurut KH. Irfan, Kiai Idris sudah menunjukkan tanda-tanda dirinya sebagai orang alim.

“Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal al-Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yg juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, Kiai Idris kemudian meneruskan ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke KH. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama.

Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya.

Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal al-Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau beliau dipercaya sebagai asisten atau badal KH. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Selain itu, Kiai Idris juga merupakan sosok kiai yang gemar membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab-kitab tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadi rujukan dalam kegiatan-kegiatan bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indoneisa dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, beliau hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukim di Mekkah, beliau sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam Syafi’i di Kairo.

Ketika di Mekkah, Kiai Said Aqil juga menyempatkan diri ikut mengaji kitab Shahih Bukhari dan Ihya’ Ulumiddin ke Kiai Idris. Di Mekkah, Kiai Idris menghabiskan waktunya di Masjidil Haram setiap saat. Kiai Idris ketika di Mekkah tinggal di rumah Syaikh Khatib al-Maduri. Beliau tinggal satu rumah dengan Prof. Dr. Djamaluddin Mirri, Rektor Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Dekan Fak. Ushuluddin IAIN Surabaya.

Tahun 1981 Idris kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yg terkenal itu. Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

Murid-Murid

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris pun untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra KH. Hasyim Asy’ari itu meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yg dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai.

Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah. Namun demikian, beliau menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali kelas musyawarah yang dulu diselenggarakan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH. Kholiq Hasyim. Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka beliau memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan menjadi ulama.

Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu, beliau membuat persyaratan yang cukup ketat. Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun, kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris, ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah, keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa, kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar, keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu bersama beliau di masjid, dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai.

Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yg terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ada banyak santri beliau yg kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Dan masing-masing santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin misalnya lebih mewarisi keilmuan fiqih Kiai Idris. Dan memang beliau digembleng oleh Kiai Idris untuk ahli dalam itu fiqih. Sejumlah kitab-kitab fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna dibaca Kiai Makruf di hadapan gurunya itu.

Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran Kiai Idris dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dgn pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit Kiai Idris sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, KH. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri-santrinya.

Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada tamu agung datang dan hendak beliau temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari.

Diantara murid-murid beliau :

  1. KH. Aqiel Siradj (Cirebon)
  2. KH. Abdul Hayyie M Naim (Cipete Jakarta)
  3. Prof. DR. KH. M Tholhah Hasan MA (Malang)
  4. Prof. DR. KH. Mustofa Ali Yaqub, MA (Tangerang)
  5. KH. Zubaidi Muslih (Jombang)
  6. Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin
  7. KH. Abdur Rasyid Maksum (Jakarta)
  8. Prof. DR. HM. Djamaluddin Mirri, MA. (Surabaya),
  9. KH. Makmun Mahbub (Tegal)
  10. KH. Ishaq Latif (Tebuireng)
  11. KH. Syuhada Syarif (Jember)
  12. DR. KH. Mustain Syafi’i, MA
  13. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
  14. KH. Habib Usman Yahya Cirebon
  15. Kiai Muhid Kebon Gadang
  16. KH. Habib Ahmad (Jombang)
  17. KH. Abdurahim (Pasuruan)
  18. Kiai Ismail (Tegal)
  19. KH. Agus Cecep Karim Hasyim (Jombang)
  20. KH. Qamuli Khudhari
  21. KH. Yahya Masduqi (Cirebon)
  22. Prof DR KH. Said Aqil Siraj, MA (berguru saat Kiai Idris bermukim di Makkah dan ngaji kitab sahih bukhari dan sahih muslim di masjid tebuireng)

Karomah KH. Idris

Bisa Menghadirkan Uang

Menurut Kiai Said Aqil Siradj, Kiai Idris mempunyai kelebihan atau karomah yaitu sebagai sosok kiai yang memberi uang kepada orang-orang yang membutuhkannya. Beliau melakukan hal tersebut dengan hanya dengan ngronggoli (asal ambil saja). Anehnya setiap beliau mengambil pasti nominalnya pas seperti yang dikehendaki.

Setan Takut Dengar Nama Kiai Idris

Banyak cerita unik tentang sosok Kiai Idris, salah satunya di Pesantren Kempek. Suatu ketika ada jin yang mengganggu suasana pondok. Semua panik, tanpa pikir panjang Kiai Said Aqil maju sambil berteriak, “Saya adukan kamu ke Mbah Idris!!!” Mendengar kata-kata saya, jin yang mengganggu itu lari dan tidak berani kembali. Ini terjadi sampai sekarang, kalau nama Kiai Idris disebut maka jin akan takut. Ayah saya, Aqil Siradj, adalah santri Kiai Idris.

Ngaji Langsung Kepada Imam Syafi’i

Ayah saya mengaji kepada Kiai Idris waktu nyantri di Pesantren Kempek. Suatu ketika di saat bulan Ramadhan, Kiai Idris pergi ke Mesir hanya untuk mengkhatamkan kitab al-Umm di samping makam Imam Syafi’i. Ketika kembali ke Mekkah, Kiai Idris cerita tentang hal itu kepada saya, “Kalau bacaan saya salah, dibenarkan oleh Imam Syafi’i”.

Teladan KH. Idris

Dalam hal ibadah salat menurut keterangan Kiai Dimyati Rois, Kiai Idris dikenal sangat lama dalam melakukan ibadah shalat. Bila kebiasaan para kiai membaca bacaan ruku’ dan sujud sebanyak 3 atau 10 kali tetapi Kiai Idris membacanya sampai 33 kali. Sehingga terkadang santri-santri yang makmum kepada beliau kecelik (terkecoh). Beliau belum bangun dari ruku’ atau sujud, santri-santri keburu bangun dari ruku’ atau sujudnya.

Kiai Idris adalah sosok yang sederhana dalam hal penampilan, beliau sama sekali tidak terlihat seperti ulama besar yang memakai sorban besar. Beliau hanya memakai imamah (sorban) biasa dan sarung. Tetapi kalau ada orang yang tahu tentang kema’rifatan Kiai Idris, jika beliau berjalan saja, maka orang pasti akan bersalaman dengan beliau meskipun tidak kenal. Banyak sekali ulama Arab, seperti ulama Mekkah, Syiria, Mesir, Palsetina, dll. yang menyalami tangan beliau padahal belum pernah ketemu.

Kiai Idris adalah kiai yang hidupnya dikhidmahkan untuk mengaji kitab, mengajar dan beribadah. Beliau telah banyak membaca berbagai kitab disiplin ilmu yang beraneka ragam. Banyak kitab beliau khatamkan berkali-kali. Saking seringnya mengkhatamkan kitab, seakan-akan beliau hafal isi kitab. Ketika ada santrinya yang membaca kitab kepada beliau, lalu bacaannya salah, maka Kiai Idris tahu kesalahannya, padahal beliau sering kali hanya menyimak bacaan santrinya tanpa melihat kitab. Kelebihan lain, beliau dapat mengetahui jika ada kitab salah cetak.

Memiliki Kebiasaan Unik

Kiai Idris mempunyai kebiasaan unik, beliau senang memelihara hewan-hewan ternak seperti sapi, kambing, bebek dan lain-lain. Kegemaran tersebut bukan untuk mencari kekayaan semata tetapi digunakan untuk sedekah kepada orang lain, kadang kala beliau memberikan susu perahan sapi kepada para ustadz di lingkungan Tebuireng, bahkan ketika cucu gurunya menikah yaitu Gus Dur, Kiai Idris memberikan dengan ikhlas beberapa ekor kambingnya untuk acara walimahan cucu gurunya itu.

Ada cerita yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Tebuireng tentang hewan-hewan piaraan Kiai Idris. Alkisah, seorang warga tak dikenal telah mencuri seekor kambing. Kambingnya gemuk dan ia bernafsu mencurinya. Setelah berhasil mencuri, kambing tersebut dimasak. Namun anehnya, setelah direbus berjam-jam, daging kambing tersebut tak kunjung matang. Warna merah dan darah di daging masih terlihat jelas. Bahkan sampai air dalam panci hampir habis tetap tidak matang.

Akhirnya ia mencari tahu apa sebabnya. Kemudian ada orang yang bercerita bahwa kambing itu milik Kiai Idris Kamali. Sontak, si pencuri gelagapan, lalu ia sowan ke beliau di Tebuireng dan meminta maaf.

Tak jarang pula, kambing-kambing Kiai Idris membuat sebuah gerombolan lalu jalan-jalan. Bukan hanya keluar desa tapi lintas kota. Para alumni pondok kerap menjumpai kambing Kiai Idris di Pare dan Kediri. Setelah ditelusuri, ternyata kawanan biri-biri itu naik kereta yang terkadang memang berhenti di depan pondok. Kalau sudah sampai luar kota, para alumni biasanya mengembakikan kambing itu kepada Kiai Idris.

“Kiai, kambingnya main-main sampai luar kota ini,” seloroh seseorang yang mengantarkan.

“Biarin saja, mungkin kambing-kambing saya itu sedang mencari pasangannya untuk dikawin,” jawab Kiai Idris santai.

Tak hanya itu,  banyak didengar pula kisah tentang kekeramatan kambing Kiai Idris Kamali lainnya. Di antaranya, dialami oleh para penjual sayur-mayur di Pasar Cukir. Suatu ketika, seperti biasa kambing besar-besar itu dilepas begitu saja dan main ke pasar. Sesampainya di pasar, kambing-kambing itu memakan sayuran yang dijual dengan semaunya sendiri.

Seorang pedagang tidak terima, ia marah dan mencaci maki kambing tersebut. Sedangkan ada pedangan lain yang membiarkan sayur-mayurnya dimakan kambing Kiai Idris. Ajaibnya, pedagang yang tak terima itu seharian penuh dagangannya tidak laku terjual. Utuh seperti yang ia bawa dari sawah.

Sedangkan pedangan satunya yang memberi makan kambing Kiai Idrsi dengan sayur-mayur yang didagangnya mengalami keuntungan berlipat ganda. Dagangannya banyak dibeli orang dan habis. Setelah kejadian ini, para penjual di Pasar Cukir senantiasa mempersilakan kambing-kambing Kiai Idris makan dagangannya karena dipercaya membawa berkah.

Untuk merawat kambing-kambingnya, beberapa santri diamanati membeli makanan khusus dan disimpan di tempat khusus pula. Menjelang sore, santri-santri junior sangat senang jika memandikan kambing-kambing tersebut di kali depan pondok.

Melihat banyak santri yang memandikan, Kiai Idris senantiasa menyediakan kue dan jajanan bagi mereka. Beliau juga menyiapkan rokok (terbuat dari daun kawung) bagi yang sudah berumur sebagai imbalan terima kasih beliau.

KH. Mustofa Mukhtar Brebes adalah salah satu santri yang ditugaskan merawat kambing Kiai Idris Kamali. Beliau bercerita bahwa suatu ketika setelah dhuhur, kambing betina milik Kiai Idris beranak. Bukan hanya satu ekor, namun anaknya tiga ekor sekaligus. Dengan senang, ia lapor ke Kiai Idris.

“Kiai, kambingnya lahiran tiga ekor!”

“Kok cuma tiga, empat gitu!” timpal Kiai Idris spontan.

Si santri heran, lahiran tiga sekaligus saja sudah ajaib, eh Kiai Idris malah minta empat ekor. Dan subhanallah, selepas Salat Asar, kambing tersebut melahirkan lagi satu ekor. Jadi jumlahnya empat, persis apa yang dikehendaki gurunya itu.

Meski banyak memelihara kambing, Kiai Idris tidak pernah pelit kepada santrinya. Jika ada kitab yang khatam dikaji, beliau memerintahkan untuk menyembelih kambingnya. Atau jika ada kambing beliau yang tertabrak di jalan raya dan hampir mati maka dengan segera beliau memerintahkan untuk menyembelihnya. Dagingnya disantap bersama-sama para santri. Jika sudah begini, para santri sangat senang, mereka menyebutnya dengan istilah ‘mayoran’.