Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Hasyim Sholeh (Pendiri Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo)
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Hasyim Sholeh (Pendiri Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo)

1939 – 2003 M · 30.883 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Hasyim Sholeh Ponorogo Jawa Timur Nahdlatul Ulama

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Pemerkasa Dzikrul Ghafilin
3.3  Pertemuan dengan KH. Hamim Djazuli

4.   Teladan
5.    Nasihat
6.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Hasyim Sholeh lahir pada tahun 1939 M di Kabupaten Ponorogo, beliau merupakan putra dari pasangan KH. Husain dan Hj. Sufiah.

Beliau kecil dan besar di Dusun Mayak, Kelurahan Tonatan Ponorogo, kecintaannya terhadap ilmu agama ini sudah terlihat semasa beliau masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Hal ini bisa dilihat dari tekadnya yang kuat untuk ikut belajar dan ngaji di pondok pesantren (mondok).

1.2 Wafat
KH. Hasyim Sholeh wafat pada hari Sabtu 13 Desember 2003 M karena sakit yang telah lama di derita beliau. Bertepatan dengan tanggal 18 Syawal 1424 H, di mana umat Islam kala itu masih dalam suasana lebaran, bersuka cita memperingati Hari Raya Idul Fitri. Namun, tidak dengan masyarakat Ponorogo yang dirundung duka karena wafatnya panutan mereka, beliau meninggal di usia 64 tahun. Semoga segala amal ibadah beliau di terima di sisi-Nya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Perjalanan dalam memperdalam ilmu agama dimulai dari Jampes Kediri  yang diasuh oleh Syekh Ihsan Al-Jampesi usai sembuh dari khitannya. Karena besarnya keinginan dalam mempelajari ilmu agama, beliaupun dengan sepenuh hati mencurahkan segala kekuatannya untuk menuntut ilmu serta mengamalkannya.

Hingga pada suatu saat KH. Hasyim Sholeh bernadzar, bahwa selama belum berhasil memperdalam ilmu agama atau berhasil dalam menuntut ilmu dipondok, beliau tidak akan menginjakkan kakinya di tanah Mayak. Hal inilah yang membuat ibunda beliau sering menangis karena rasa rindu yang amat mendalam, sehingga ayah dan ibunyalah yang harus menjenguk.

Pancaran kharisma dari KH. Hasyim Sholeh ini memang sudah telihat sejak masih kecil, hal ini bisa dilihat dari cara belajar beliau yang cukup unik, tidak seperti lazimnya para pelajar lainnya. Selepas Subuh, beliau terkadang pergi ke kebonan (kebun: Jawa) untuk belajar.

Durasi belajarnya pun tidak pernah lama, hanya beberapa menit, meski demikian beliau mampu menangkap pelajaran dengan sempurna. Bahkan konon, sewaktu di pondok, beliau mampu mengalahkan kakak kelasnya dalam hal keilmuan. Beliau pun sering melakukan tirakat, mulai puasa mutih, ngrowot (makan polo kependem), dan patigeni.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren, beliau pun pulang ke Ponorogo dan melaksanakan puasa mutih selama 40 hari, di hari terakhir beliau lupa tidak makan sahur, padahal waktu itu puasa harus dite

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+