Biografi K.H. Muchtar Thabrani Bekasi Ulama Jawa Barat
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Muchtar Thabrani
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikan Pesantren
- Karya-Karya
- Kiprah di NU
Kelahiran
KH. Muchtar Thabrani lahir pada tahun 1901, di Kaliabang Nangka, Bekasi (sekarang Bekasi Utara). Beliau merupakan putra Thabrani.
Ayahnya adalah seorang petani kecil yang mencukupi hidupnya hanya mengandalkan hasil panen yang kadang tak menentu. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Pak Thabrani terpaksa harus berdagang daun sirih.
Wafat
KH. Muchtar Thabrani wafat pada Tahun 1971 di Pondok Pesantren Annur.
Keluarga
Pada tahun 1950, KH. Muchtar yang telah berusia sekitar 41 tahun melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Ni`mah Ismail gadis berusia 14 tahun anak dari H. Ismail Kemayoran Jakarta. Ketika itu beliau meminta dua orang sahabatnya, KH. Noer Ali (Ujung Harapan) dan KH. Tambih (Kranji) yang membantu dalam proses lamaran hingga acara pernikahan. Buah dari pernikahan, beliau dikaruniai 4 putra dan 3 putri.
Diantaranya, KH. Aminuddin Muchtar, KH. Aminulloh Muchtar,BA, KH. Ishomuddin Muchtar, Lc, KH. Ishomulloh Muchtar, M.Ed, Ustj. Hj. Hannanah Muchtar, M.A, Ustj. Hj. Nurhamnah Muchtar Lc, dan Ustj. Hj. Yayah Inayatillah Muchtar, SH.
Pendidikan
Karena KH. Muchtar Thabrani adalah anak pertama, Pak Thabrani bercita-cita untuk menjadikannya seorang ulama. Muchtar kecil pun diserahkan kepada Guru Mughni untuk belajar Al-Qur`an. Bukan hanya itu saja, konon, jika ada orang alim berkunjung ke Kaliabang Nangka, Pak Thabrani segera mendatangi orang tersebut untuk minta didoakan agar anaknya Muhtar menjadi orang yang alim kelak. Muchtar kecil kemudian diserahkan orang tuanya untuk meneruskan ngajinya ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara.
Setelah menginjak dewasa, dan telah memiliki pengetahuan yang cukup memadai, KH. Muchtar Thabrani kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan ilmu dan memulai perjalanan dakwah di kampungnya yang saat itu masih kental dan sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Ketika itu Kaliabang Nangka masih sangat akrab dengan pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme.
Persembahan untuk makhluk halus dan percaya bahwa benda-benda mati mempunyai kekuatan ghaib dan dapat menolong manusia, bukan merupakan pemandangan yang aneh saat itu. Dari sini ia merasa terpanggil untuk membenahi aqidah orang kampungnya, yang sudah semakin jauh dari ajaran Islam yang benar. Sedikit demi sedikit ia mulai merubah pola hidup keagamaan di kampungnya.
Pada saat usianya menjelang 20 tahun, Muchtar telah menjadi tokoh pemuda yang paling disegani di kampungnya. Muchtar telah berhasil merubah dan meluruskan masyarakat Kaliabang Nangka dari pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dan saat itu terbersit di hatinya untuk berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang kelima.
Namun keinginan itu tak langsung begitu saja terwujud. Muchtar membutuhkan waktu enam tahun untuk mengumpulkan uang sebesar tiga ribu enam ratus rupiah untuk ongkos berangkat haji yang kala itu masih menggunakan kapal laut. tanah suci Muchtar kemudian menimba ilmu kepada beberapa orang guru. Dintaranya adalah Syekh Muchtar At-Atharid, Syekh Ahyad dan beberapa orang guru lainnya. Namun guru yang paling dekat dan paling banyak mempengaruhi pola pikir dan perkembang
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

