Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Noer Ali, Ulama Pejuang dan Pendiri Pesantren At-Taqwa, Bekasi
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Noer Ali, Ulama Pejuang dan Pendiri Pesantren At-Taqwa, Bekasi

1914 – 1992 M · 52.976 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Noer Ali pernah memimpin laskar Rakyat Bekasi melawan Belanda dan pernah bergabung dan menjadi Komandan Batalyon III Barisan Hizbullah. Namanya sangat dikenal oleh rakyat dan ditakuti Belanda karena keberanian dan jiwa patriotnya.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren
3.2  Pejuang Melawan Penjajah

4.    Karomah
5.    Penghargaan
6.    Chart Silsilah Sanad
7.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
KH. Noer Ali lahir pada 15 juli 1914 M. di Desa Ujung Malang Bekasi. Beliau merupakan putra dari pasangan Bapak Anwar bin Layu, seorang petani dengan Ibu Maimunah.

1.2. Wafat
KH. Noer Ali wafat pada usia 78 tahun tepatnya pada tanggal 3 Mei 1992. Masyarakat dan para ulama merasa sangat kehilangan sosok ulama dan pejuang yang telah banyak berjasa bagi negara.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Cita cita yang dimilki oleh KH. Noer Ali sejak masa kanak-kanak adalah “membangun dan menciptakan perkampungan Surga”, sungguh suatu cita-cita yang sangat mulia yang terucap dari KH. Noer Ali kecil, beliau belajar dari mengaji Al-Qur'an pada ayahnya dan kakaknya, usia lima tahun sudah mampu menghafal surat-surat pendek Al-Qur’an.

Menginjak usia 7 tahun KH. Noer Ali mengaji kepada Guru Maksum Bekasi dan Guru Mughni, banyak sekali ilmu yang didapat dari kedua gurunya tersebut yang mendasari jiwanya dengan ruh-ruh keislaman, beranjak remaja KH. Noer Ali belajar kepada ulama besar di Betawi bernama Guru Marzuki. Di samping belajar ilmu-ilmu agama kepada Guru Marzuki, Kiyai Noer juga belajar ilmu beladiri kepada beliau.

Konon Kyai Noer terkenal sakti dan tidak mempan ditembus peluru. Bahkan penjajah Belanda pun kesulitan menangkap KH. Noer Ali. Beliau sering menghilang dan tidak dapat dilihat oleh mata awam hingga masyarakatpun memberi gelar KH. Noer Ali sebagai “Belut Putih” yang sangat licin.

Dengan semangat belajar yang tinggi KH. Noer Ali dengan berat hati mengutarakan keinginan kepada ayahnya bahwa dirinya akan menuntut Ilmu di Makkah. Saat itu KH. Noer Ali menyadari betul siapa ayahnya yang merupakan seorang petani dan tidak mungkin memilki banyak uang untuk membiayai belajar di Makkah.

Meski demikian adanya, karena didorong rasa semangat belajar yang tinggi, ayahnya pun tak ingin mematahkan semangatnya. Maka sang ayah berusaha keras untuk mendapatkan uang agar anaknya dapat belajar di Makkah walaupun harus meminjam dan dibayar dengan dicicil selama bertahun-tahun. Dengan harapan kelak anaknya dapat menjadi orang yang berguna di masyarakat.

Tahun 1934 KH. Noer Ali akhirnya melanjutkan belajar di Makkah di Madrasah Darul Ulum, guru-guru beliau antara lain: Syaikh Ali Al-Maliki, Syaikh Umar Turki, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Ahmad Fathani dan lain-lain.

2.2 Guru-Guru

  1. Anwar bin Layu (bapak),
  2. KH. Maksum Bekasi,

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+