Ciri khas NU lainnya adalah isi kajian Buya Syakur lebih mengutamakan kehidupan bermuamalah di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
4. Keistimewaan
5. Karya-Karya
6. Chart Silsilah Sanad
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
Prof. Dr. KH. Abdul Syakur Yasin, M.A., atau yang akrab dengan sapaan Buya Syakur lahir pada tanggal 2 Februari 1948 M dari pasangan KH. Moh Yasin Ibrohim dan Nyai Hj. Zaenab, di Indramayu, Jawa Barat. Buya Syakur merupakan sosok ulama yang sangat rendah hati (tawadhu), sederhana dan selalu menghormati kepada siapapun dan dari latar belakang apapun.
Dalam menyampaikan kajiannya Buya Syakur memiliki ciri khas seperti ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya, suara Buya Syakur tidak pernah meninggi, beliau menjelaskan aneka persoalan yang sebenarnya cukup rumit, namun beliau jelaskan dengan perlahan, jelas dan fokus. Ciri khas NU lainnya adalah isi kajian Buya Syakur lebih mengutamakan kehidupan bermuamalah di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Baca juga: Keharusan Memiliki Guru, Penjelasan Buya Syakur dari Sisi Tasawuf
1.2 Riwayat Keluarga
Buya Syakur menikah dengan Nyai Hj. Zainab Al-Huda, dari pernikahannya, beliau dikaruniai dua orang anak yakni Hasyimi Robit Ibdal dan Khozainu Rohmati Robbi Dawud Awwab.
1.3 Wafat
Buya Syakur wafat pada Rabu, 17 Januari 2024 pukul 02.00 WIB dini hari di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon, Jawa Barat.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Masa pendidikan Buya Syakur dari kecil hingga dewasa banyak dihabiskan di pondok pesantren. Beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Lamanya belajar di pondok pesantren, membuat Buya Syakur menjadi mahir dalam berbahasa Arab. Hal ini kemudian yang membuat Buya Syakur menerjemahkan kitab-kitab bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di Babakan pada tahun 1971 M, Buya Syakur melanjutkan pendidikan di Cairo. Ketika Buya Syakur menjadi mahasiswa di sana, beliau diangkat menjadi Ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Cairo.
Buya Syakur selesai dengan skripsi sarjananya yang berjudul Kritik Sastra Objektif terhadap karya novel-novel Yusuf As-Siba’i (Novelis Mesir). Kemudian pada tahun 1977 M, Buya Syakur menyelesaikan ilmu Al-Qur’an di Libya. Pada tahun 1979 M, beliau menyelesaikan sastra Arab. Dua tahun selanjutnya, tepatnya pada tahun 1981 M, beliau telah menyelesaikan S2-nya dalam bidang sastra linguistik di Tunisia. Setelah itu, kemudian beliau diangkat menjadi staff ahli di kedutaan besar Tunisia.
Pada tingkat doktoral,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

