Salah seorang Kiai NU yang memiliki kehebatan luar biasa, yakni Kiai Amin bin Irsyad atau lebih akrab dikenal sebagai Kiai Amin Sepuh.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Pengasuh Pesantren
4 Jasa
4.1 Peran dalam Mempertahankan Kemerdekaan
4.1 Peran dalam Bidang Pendidikan
5 Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Amin bin Irsyad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan KH. Amin Sepuh, lahir pada Hari jum’at 24 Djulhijjah 1300 H atau tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Silsilah nasab beliau dari sang ayah KH. Irsyad sampai kepada Syekh Syarif Hidayatullah.
1.2 Riwayat Keluarga
Sebagai seorang ulama yang taat kepada ajaran Allah dan mengikuti jejak Rasulullah, Kiai Amin Sepuh menikah dengan harapan akan mendapatkan keturunan yang saleh serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam mempertahankan dan meneruskan risalahnya, beliau menjalin pernikahan dengan perempuan dari keturunan ulama, yang diharapkan dapat melanjutkan misi keagamaan dalam garis keturunan. Pernikahan pertamanya dengan Nyi Hj. Aisyah, cucu dari Kiai Ismail, melahirkan sekitar 18 anak, di mana 11 di antaranya masih hidup. Beliau juga menikahi Nyi Hj. Aliyah, putri dari KH. Abdul Rahim, dan Nyi Hj. Sujinah, sebagai langkah dalam pertumbuhan dan perkembangan misi keagamaan, serta memperoleh keturunan untuk meneruskan jihadnya.
1.3 Wafat
Pada Selasa, 16 Rabi'ul Akhir 1392 H atau 20 Mei 1972 M, KH. Amin Sepuh wafat pada usia yang hampir mencapai satu abad. Setelah wafatnya, kepemimpinan pesantren diambil alih oleh putra-putranya, seperti KH. Fuad Amin, KH. Abdullah Amin, KH. Fathoni Amin, dan KH. Bisri Amin.
Generasi selanjutnya, seperti KH. Amrin Hanan, KH. Azhari Amin, dan KH. Drs. Zuhri Afif Amin, juga turut mengambil bagian dalam pengelolaan pesantren. Setelah wafatnya KH. Drs. Zuhri Afif Amin, kepemimpinan dilanjutkan oleh cucu-cucu KH. Amin Sepuh serta ulama dan masyarakat yang memiliki kompetensi untuk mengembangkan pesantren.
Mereka tidak hanya mengutamakan pendidikan agama, tetapi juga menerapkan pendidikan umum bagi para santri dengan harapan agar mereka dapat memenuhi kewajiban dunia dan akhirat secara seimbang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Amin kecil, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya KH. Irsyad. Setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dari sang ayah, dan ilmu kanuragan, Kiai Amin melanjutkan pendidikannya ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni diantaranya, beliau belajar di pesantren Sukasari, Plered, Cirebon dibawah asuhan KH. Nasuha, setelah itu pindah ke pesantren di daerah Jatisari di bawah bimbingan KH. Hasan.
Beliau juga sempat mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal (kakak angkatan KH. Ru’yat), lalu ke Pesantren Mangkang Semarang. Berikutnya beliau pindah ke sebuah pesantren Jawa Tengah tepa
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

