Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Moh. Said Ketapang
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Moh. Said Ketapang

1901 – 1964 M · 26.057 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi KH. Biografi KH. Moh. Said Ketapang Shiddiq Ulama Nahdlatul Ulama Malang Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi KH. Moh. Said Ketapang

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Merintis Pesantren
  6. Santri-Santri
  7. Perjuangan Melawan Penjajah
  8. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  9. Kisah Pertemuan dengan KH. Abdul Hamid

 

Kelahiran

KH. Moh. Said Ketapang lahir pada tahun 1901 di Jl. Tongan Kodya Malang. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Moh. Anwar dengan Ny. Lis.

Wafat

KH. Moh. Said Ketapang wafat pada tanggal 1 Desember tahun 1964 dalam usia 63 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di lingkungan Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Malang.

Sebelum KH. Moh. Said Ketapang wafat, ada satu kisah dimana pada saat beliau sedang sakit, beliau dikunjungi al-Quthb al-Habib Abdul Qadir Bilfaqih, Pengasuh Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyah, yang waktu itu diantarkan oleh Gus Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qadir sempat menawarkan obat dari Jerman yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kiai Said.

Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran sang habib tersebut ditolaknya. Lantas KH. Moh. Said Ketapang menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi. Hatinya pecah menjadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya: “Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah.”

“Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Pak Kiai. Dzikir itu saja diteruskan,” tutur Gus Mad Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qadir Bilfaqih kepada Kiai Said waktu itu.

Keluarga

Pada tahun 1925,  KH. Moh. Said Ketapang melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Fatimah, seorang perempuan dari Kidul Pasar Malang. Waktu itu, beliau masih berstatus sebagai pegawai di Kantor Gubernur di Surabaya tahun 1925-1927. Dalam pernikahannya, Kiai Said tidak sampai dikarunia anak.

Pendidikan

Pada masa penjajahan Belanda, KH. Moh. Said Ketapang termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan NIS tahun 1911. 5 tahun kemudian, tahun 1916, menamatkan ELS. Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember selama 9 tahun, 1916-1925.

Secara khusus, awalnya Kiai Said hanya nyantri di beberapa kiai di Malang, seperti ngaji pada KH. Abdul Mukti bin Harun, dan beberapa kiai lainnya. Selain itu, juga pernah nyantri ke Canga’an Bangil. Kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji Sidoarjo pada tahun 1926-1931, setahun setelah menikah.

Merintis Pesantren

Setelah KH. Moh. Said Ketapang pindah di Kabupaten Malang, tepatnya pada tahun 1927, beliau mulai kembali merintis pondok pesantren hingga pada tanggal 28 Oktober 1948 Pondok Pesantren PPAI Desa Sukor

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+