Biografi KH. Abdul Hayyie Cipete Ulama Cipete Jakarta Nahdlatul Ulama
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Abdul Hayyie Nai'm
- Kelahiran
- Pendidikan
- Murid Kesayangan KH. Idris Kamali
- Belajar di Tanah Arab
- Bersahabat dengan Presiden Ke-4
- Pengasuh Majelis Taklim dan Madrasah
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Abdul Hayyie Nai'm lahir pada tahun 1940 di Cipete, Jakarta Selatan. Beliau merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan KH. Muhammad Na’im, ulama asli Cipete dengan Hj. Mardhiyah, yang berasal dari Mampang.
Pendidikan
Masa kecil KH. Abdul Hayyie Nai'm dihabiskan dengan belajar bersama orang tuanya di Cipete, Jakarta Selatan. Selepas Madrasah Ibtidaiyah, ia pun kemudian melanjutkan ke Raudhatul Muta’alimin Mampang, yang diasuh ulama kenamaan Betawi KH. Abdur Razaq Ma’mun.
Setelah selesai belajar dengan KH. Abdul Razaq, Abdul Hayyie, yang baru berusia 14 tahun, melanjutkan pendidikannya dengan nyantri ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Meski masih terbilang kecil, Abdul Hayyie berangkat ke pesantren hanya bersama kawannya, tanpa ditemani orangtua. Bahkan saat masuk pesantren yang saat itu diasuh KH. Abdul Khaliq Hasyim, ia hanya memakai celana pendek. Maka, tak ayal, ia disambut dengan sorak-sorai santri-santri lain, sementara ia sendiri kebingungan karena tak mengerti bahasa Jawa.
Enam bulan pertama, ia mengaku baru berusaha menyesuaikan diri dengan suasana pesantren. Atau, menurut istilahnya, mondok-mondokan.
Baru pada bulan ketujuh, ayahnya datang untuk memasrahkannya kepada para pengajar Tebuireng. Secara khusus ia juga dititipkan kepada KH. Idris Kamal, menantu Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, yang berasal dari Cirebon.
Awalnya, Abdul Hayyie, yang berteman akrab dengan Gus Hakam, putra KH. Kholiq, pengasuhnya, mengikuti pengajian dengan sistem bandongan, guru membacakan sebuah kitab dan para santri menyimak sambil memberi catatan makna di kitabnya masing-masing.
Setelah dua tahun, Kiai Idris, gurunya, menyuruh Abdul Hayyie mengaji dengan sistem sorogan, santri membaca dan menguraikan makna kitab sedangkan sang guru hanya mendengarkan sambil sesekali mengoreksi.
“Kalau kamu ngaji bandongan, yang akan tambah pandai itu guru kamu,” nasihat Kiai Idris waktu itu. “Sedangkan dengan sorogan, kamulah yang akan aktif dan bertambah pandai,” Secara khusus, Kiai Idris menyediakan waktu baginya untuk mengajukan sorogan.
Murid Kesayangan KH. Idris Kamali
KH. Abdul Hayyie Nai'm adalah salah satu santri yang sangat diistimewakan dan disayangi oleh KH. Idris Kamali. Dalam beberapa kisah yang diceritakan, misalnya, setiap kali makan malam, Kiai Idris selalu menyisakan separuh da
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

