KH Habibullah Zaini Ulama Nahdlatul Ulama Lirboyo Kediri Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Habibullah Zaini lahir pada bulan Agustus 1954, beliau merupakan putra ketiga dari empat saudara, dari pasangan KH. Zaini Munawwir (Krapyak) dan Nyai Qomariyah Abdul Karim (Lirboyo).
Saudara-saudara beliau di antaranya, putra pertama wafat saat masih kecil, putra kedua, almarhum H. Thoha Zaini, putra ketiga adalah KH. Habibulloh Zaini dan putra bungsunya adalah almarhum Hasan Zaini.
1.2 Wafat
KH. Habibullah Zaini wafat pada hari Senin 16 Jumadil Akhir 1441 H atau 10 Februari 2020 di Rumah Sakit Darmo Surabaya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, KH. Habibullah Zaini belajar di bawah asuhan orang tua dan para gurunya di Pesantren Lirboyo, kediri pada waktu itu diasuh oleh KH. Mahrus Aly. Setelah itu melanjutkan nyantri di Pesantren Tanggir, Tuban. Usai nyantri di Pesantren Tanggir, beliau pulang kembali ke Lirboyo, menikah dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dzurriyyah Lirboyo, mengajar dan mengasuh santri.
3. Teladan
KH. Habibullah Zaini adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara makan, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqih, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadhuan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat bagaimana sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kyai-kyai yang lain. Sikap tawadhu beliau terlihat bagaimana pada saat momen makan bersama kyai-kyai yang lain di ndalem KH. Sahal Mahfudh.
Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan makan siang di Kajen, Kyai Habibulloh justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kyai-kyai lain yang berusia lebih lanjut.
Tawadhu’ beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh Pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kyai Habibulloh, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab Al-Hikam Kamis Legi yang diampu KH. Anwar Mansur tsb.
Pribadi beliau yang pendiam, akan terlihat berbeda saat “madep dampar” (sebuah istilah yang lazim digunakan di Lirboyo untuk aktifitas mengaji Kitab Kuning untuk para santri). Saya teringat saat beliau sempat pulih dari gerah panjangnya. Ketika saya sowan dan bertanya kepada beliau:
“
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

