Ketika berumur tujuh tahun Kyai Dahlan dan keluargnya pindah ke Yogyakarta untuk mengadu nasib. Di sinilah perjalanan Kyai Dahlan di mulai. beliau memulai sekolah di SR (Sekolah Rakyat) di Suryodinatan.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Penemu Metode Qira'ati
4. Karomah
4.1 Mendapatkan Ilham
4.2 Dawuh KH. Sholeh Darat
5. Karya-Karya
6. Pesan-Pesan
7. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Dahlan Salim Zarkasyi lahir pada tanggal 28 Agustus 1928 M di Semarang. Beliau merupakan putra dari pasangan Bapak Salim Zarkasyi dan Ibu Siti Rehana. Terlahir dari keluarga yang sederhana dari keluarga yang kesehariannya sebagai tukang cukur dan sebagai jasa cuci pakaian membentuk karakter Kyai Dahlan sebagai pekerja keras, sabar dan ulet.
1.2 Wafat
KH. Dahlan Salim Zarkasyi wafat pada tanggal 20 Januari 2001 dan dimakamkan di Semarang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Ketika berumur tujuh tahun Kyai Dahlan dan keluargnya pindah ke Yogyakarta untuk mengadu nasib, di sinilah perjalanan Kyai Dahlan di mulai. Beliau memulai sekolah di SR (Sekolah Rakyat) di Suryodinatan. Masa remaja Kyai Dahlan diisi dengan berkerja bersama saudaranya. Berbagai macam pekerjaan beliau lakukan mulai dari pedangan asongan sampai membuat kembang dari kertas di Surabaya.
Seiring berjalannya waktu Kyai Dahlan mulai merasa jenuh dengan kehidupan yang selama ini dijalani dari kecil hingga dewasa digunakan untuk mencari uang. Kyai Dahlan memulai memikirkan tentang kehidupan yang lebih berarti.
Akhirnya Kyai Dahlan memutuskan untuk mondok. Kaliwungu kota kecil, kota yang penuh dengan kedamaian, kota santri. Mulailah dengan mondok di Pondok Pesantren Kauman di bawah asuhan KH. Ruhyat dan KH. Khumaid. Di pondok Kyai Dahlan belajar kitab tafsir Jalalain, Al-Irsyad Al-Ibaad, Fathul Mu'in dan lainnya. Kadang juga belajar tasawuf dengan KH. Khumaid.
Ba’da shalat Subuh Kyai Dahlan mencoba belajar ngaji dengan KH. Asrar. Perkenalan dengan Kyai Asrar membuat Kyai Dahlan berpaling dari niat semula yang ingin belajar kitab, Kyai Dahlan pindah pondok ke Majelis Taklim Kauman, atau sering disebut ngaji di lor masjid. Tidur hanya beralaskan tikar, kalau belajar duduk di atas ubin, dan menulis di atas bangku. Waktu siang digunakan untuk istirahat. Di pondok KH. Asrar. Kyai Dahlan tidur di kamar No. 9, yaitu kamar kecil untuk 2 orang Kyai Dahlan dan Pak Ihsan.
Bila disuruh menghafal, ternyata Kyai Dahlan tidak mampu, maka mendapat hukuman mengisi kolah sebanyak 50 ember. Bila santri dibangunkan untuk menunaikan shalat Subuh agak sulit, maka algojo pondok akan turun tangan. Samlawi dari Tegal tidak segan-segan untuk menyiramkan air ke atas tubuh santri. Kyai Dahlan belajar membaca Al-Fatihah bin nadhor selama tiga bulan, baru dinyatakan lulus oleh KH. Asrar bin KH. Ridwan.
KH. Asrar mengajar santrinya satu-persatu. Didengar dengan sungguh-sungguh bacaan santri. Suatu hari Kyai Asrar mengajar dengan membawa lampu teplok (lampu santri/lampu tempel) semua santrinya yang hanya 9 orang duduk
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

