Kegigihan KH. Humaidullah Irfan dalam mencari guru sangatlah kuat, bahkan sampai usia senja beliau masih ingin menyambungkan ilmunya dengan ulama-ulama yang alim.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Biografi KH. Humaidullah Irfan Kaliwungu
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Nasab
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Humaidullah Irfan KH. Humaidullah Irfan merupakan putra sulung dari KH. Irfan bin Kyai Musa dengan Nyai Sufirah binti Imron.diperkirakan lahir sekitar tahun 1912 M
Ayahanda beliau adalah KH. Irfan Kaliwungu yang namanya sudah dikenal di kalangan pesantren-pesantren di Jawa
1.2 Nasab
KH. Humaidullah bin Irfan bin Musa masih keturunan dari Prabu Brawijaya ke V dengan silsilah sebagai berikut:
- Prabu Brawijaya V Bhre Kertabhumi
- Bondan Kejawan atau Lembu Peteng
- Kyai Ageng Getas Pandawa
- Kyai Ageng Selo
- Kyai Ageng Enis
- Kyai Ageng Pemanahan
- Panembahan Senopati Mataram
- Kyai Jewo Seto
- Kyai Qomaruddin
- Kyai Ma’arif
- Kyai Abdul Baqi
- Kyai Musa
- KH. Irfan
- KH. Humaidullah Irfan
1.3 Wafat
Wafat pada hari Senin jam 23:23 ,Tanggal 29 Romadlon 1405 H/17 Juni 1985 M dalam usia 73 Tahun
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Semangat belajar Kyai Humaid sudah tumbuh sejak kecil. Sebelum beliau mengaji kepada para Kyai di luar Kaliwungu, beliau terlebih dahulu mengaji kepada ayahnya, kemudian mengaji Al-Qur’an kepada Kyai Ahmad Badawi Kaliwungu dan mengaji kitab kuning kepada Kyai Abdul Aziz Kaliwungu.
Setelah Kyai Humaid berusia 18 tahun, ayahnya yakni KH. Irfan bin Musa wafat. Pada usia yang relatif muda ini Kyai Humaid menjalani kehidupan tanpa ditemani sang ayah, namun tidak membuat Kyai Humaid putus asa. Beliau semakin memiliki ghiroh untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Menurut penjelasan Kyai Sholahuddin, dua tahun setelah kepergian sang ayah, Humaid muda pamit dari Kaliwungu untuk menimba ilmu di Pesantren Kasingan Rembang untuk mendalami ilmu Nahwu dan Shorof kepada Kyai Kholil Harun. Kyai Sholahuddin juga menjelaskan ketika Kyai Humaid belajar di Kasingan, beliau bertemu dengan Kyai Mahrus Ali, Kyai Bisri Musthofa, dan Kyai-Kyai lainnya. Artinya perjalanan keilmuan Kyai Humaid masih satu kurun dan bertemu dalam satu guru bersama Kyai Mahrus dan Kyai Bishri.
Setelah merasa cukup mengaji di Kasingan, Kyai Humaid pergi ke Tremas Pacitan untuk mengobati dahaga keilmuanya. Beliau mengaji kepada KH. Dimyathi selama kurang lebih dua tahun. Kyai Sholahudin juga menjelaskan waktu beliau mengaji di Tremas bertemu dengan Kyai Ali Maksum Krapyak, Kyai Abdul Hamid Pasuruan, Kyai Zarkasyi Gontor, dan Kyai-Kyai lainya.
Setelah beliau mengaji kepada Kyai Dimyathi, kemudian pergi ke Pesantren Cemoro Banyuwangi yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Abdullah Faqih selama tiga tahun. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Lirboyo Kediri, di sana beliau mendalami ilmu bersama Kyai Abdul Karim.
Menurut cerita Kyai Sholahuddin, ketika mengaji di Lirbcyo, Kyai Abdul Karim mengetahui identitas KH. Humaidullah Irfan yang mana ia adalah putra dari Kyai Irfan Kaliwungu yang namanya sudah dikenal di kalangan pesantren-pesantren di Jawa, akhirnya KH. Humaidullah Irfan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

