KH. Abdurrohim Al-Baqir Ulama Nahdlatul Ulama Gresik Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Abdurrohim Al-Baqir
Kelahiran
KH. Abdurrohim Al-Baqir lahir pada tahun 1941 di dusun Nongko Kerep Desa Sampurnan Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik Jawa Timur. Beliau merupakan putera dari Kiai Baqir bin Hasyim bin Abdurrohim bin Nidhomuddin dengan Nyai Afifah binti Ali binti Ismail.
Dari jalur Ayah masih ada keturunan darah Madura, yaitu KH. Nidhomuddin yang merupakan Guru Syaikhona Kholil Bangkalan. Ibunya merupakan salah satu keturunan pesantren tertua di Gresik, yaitu Pesantren Qomaruddin. Pesantren ini telah melahirkan orang-orang besar dan berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Keluarga Kiai Abdurrohim termasuk salah satu keluarga yang amat disegani oleh masyarakat. Mereka dihormati karena kesopanan serta tingkat keilmuannya yang tinggi. Abdurrohim kecil telah ditanamkan sifat-sifat religius sejak usia dini.
Ayahnya selalu mengingatkan akan pentingnya menjaga akhlak dan berhati-hati dalam bertutur kata. Maka tak heran apabila dia menjadi pribadi yang amat santun tutur katanya dan luas ilmu pengetahuannya. Seperti maqalah ulama’ mengatakan bahwa “Adab nilainya lebih tinggi dari pada ilmu”. Jadi tidak peduli seberapa luas ilmu seseorang, ketika dia tidak mempunyai adab, maka ia tidak akan dihormati oleh masyarakat.
Orang yang berilmu namun tidak mempunyai sopan santun bisa dipastikan termasuk orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Dia pasti tau hadits Nabi yang begitu populer bahwa Nabi diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak kita semua. Seseorang yang mempunyai ilmu namun tidak mengamalkannya maka akan mendapatkan kecaman dari Allah Swt.
Hal ini sesuai firman Allah dalam surat As-Shaff ayat 3 yaitu “kabura maqtan indallahi lima taquuluuna maa la taf’alun”, yang artinya “Amat besar kebencian Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.
Hal ini juga senada dengan pepatah arab yaitu “Al-Ilmu bila amalin kas syajari bila tsamarin” , ilmu tanpa diamalkan itu bagaikan pohon tidak berbuah. Kebesaran nama Kiai Abdurrohim salah satunya karena ia mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, terutama yang berkaitan dengan akhlak. Salah satu ikhtiar yang dilakukan oleh Kiai Baqir terhadap keluarganya agar mempunyai semangat belajar yang kuat serta mempunyai sopan santun yang baik dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini.
Keluarga
Setelah selesai belajar dari pesantren, KH. Abdurrohim Al-Baqir mengakhiri masa lajangnya dengan Ni’matus Sholihah atau dikenal dengan Nyai Ni’matus Sholihah. Beliau yang menemani Kiai Abdurrohim membangun pesantren, dari merintis hingga mempunyai ratusan santri dan alumni yang menjadi tokoh di masyarakat. Bersama dengan Nyai Ni’matus Sholihah, Kiai Abdurrohim dikaruniai 9 anak, yaitu: Nidhomudin, Nur azizah, Muhammad baqir zainul ibad, Inayah, Qurotun ayun, Abdillah nashor, Maulana haji, Rohmatul hajah, Sulton arrobi.
Kepada sembilan anaknya, Kiai Abdurrohim juga menerapkan pola yang sama yang dilakukan oleh Ayahnya terhadap anaknya. Beliau mendidik anak-anaknya dengan pendidikan karakter baik sejak usia dini. Bahkan menurut penuturan salah satu anaknya, ia sangat disegani oleh anakanaknya dan tidak ada yang berani menentang perintahnya. Padahal Kiai Abdurro
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

