KH. Abdul Muchit Muzadi Lahir pada 19 Jumadil Awal 1344 H atau 4 Desember 1925 M di Bangilan, Tuban. Beliau adalah kakak kandung dari KH. Hasyim Muzadi. Terlahir sebagai salah satu putra Bpk. Muzadi dengan Ibu Rumyati. Ayahnya adalah seorang pedagang tembakau sukses yang sangat mencintai ulama.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Mendirikan Lembaga Pendidikan
3. Jasa, Karya, dan Karir
3.1 Ditunjuk menjadi Komandan Hizbullah
3.2 Karya-karya
3.3 Karier
4. Teladan
4.1 Sikap yang Tawadhu
4.2 Pakar Khittah
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Abdul Muchit Muzadi lahir pada tanggal 19 Jumadil Awal 1344 H atau 4 Desember 1925 M di Bangilan, Tuban, beliau adalah kakak kandung dari KH. Hasyim Muzadi. Terlahir sebagai salah satu putra Bapak Muzadi dengan Ibu Rumyati. Ayahnya adalah seorang pedagang tembakau sukses yang sangat mencintai ulama. Berkah dari kecintaan itulah kelak anak-anaknya menjadi ulama besar yang dihormati masyarakat.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Muchit Muzadi menikah dengan Nyai Siti Farida, dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai sembilan orang anak dan dua di antaranya sudah meninggal dunia. Beliau juga dikaruniai memiliki 19 cucu dan satu orang cicit.
1.3 Wafat
KH. Abdul Muchit Muzadi wafat saat berusia 90 tahun, pada hari Minggu 6 September 2015 pukul 05.00 WIB di Rumah Sakit Persada, Kota Malang, Jawa Timur. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tegalboto, Jalan Kalimantan Jember.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
KH. Abdul Muchit Muzadi belajar membaca Al-Qur’an kepada ibunya sendiri. Selain itu, sang ibu juga mengajarkan pelajaran lain yang bersifat dasar. Untuk menambah wawasan keagamaan, beliau mengaji kitab-kitab kecil pada Kyai Ridwan, Kyai terkemuka di Kampung Bangilan, Tuban. Pada usia 10 tahun, beliau belajar di Pondok Pesantren Kulon Banon, Kajen, Pati, asuhan KH. Nawawi (1935-1937).
Beliau kemudian melanjutkan belajar di Madrasah Matholiul Falah, Kajen, asuhan KH. Mahfudh Salam (ayah KH. A. Sahal Mahfudh). Pada tahun 1937 beliau melanjutkan belajar di Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Di pesantren inilah, beliau bertemu berbagai santri yang kelak menjadi tokoh besar terkenal, di antaranya adalah KH. Ahmad Shiddiq.
2.2 Guru-Guru
1. Nyai Rumyati (Ibunda KH. Abdul Muchit Muzadi)
2. KH. Ridwan Bangilan, Tuban
3. KH. Nawawi
4. KH. Mahfudh Salam
5. KH. Hasyim Asy’ari
2.3 Mendirikan Lembaga Pendidikan
Setelah selesai belajar di Tebuireng, beliau kembali ke kampung halamannya di Tuban dengan mendirikan Madrasah Salafiyah (1946). Walaupun seba
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

