Setelah belajar sekitar 13 tahun di Pesantren An Nida, KH. Mahfudz Asirun pun meminta izin kepada Syekh Muhajirin untuk benar-benar pulang kampung untuk melanjutkan dan mengembangkan ta’lim yang sudah beliau rintis sejak lama.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mendirikan Pesantren
3.2 Kiprah di Nahdlatul Ulama
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mahfudz Asirun lahir pada tanggal 1 Maret 1954 di Jakarta. Beliau merupakan anak ke dua dari tujuh bersaudara, dari pasangan KH. Asirun bin H. Selong dengan Hj. Marfuah binti H. Mukhtar.
Ayah beliau adalah seorang guru ngaji di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, sementara kakeknya H. Selong dikenal sebagai tokoh masyarakat Cengkareng pada masanya.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Mahfudz Asirun menikah dengan Nyai Aan Kurniasih binti H. M. Arpandi, sosok gadis kelahiran Jakarta, 30 Agustus 1966. Beliau menikah pada tanggal 1 Sya’ban 1406 Hijriyah atau bertepatan pada tanggal 16 April 1986. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 3 Putra dan 3 Putri.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Setelah tamat MI, KH. Mahfudz Asirun tidak melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi beliau ikut berdagang ke pasar dengan berjualan beras. Sepulang berjualan, Beliau pergi mengaji kepada beberapa mu’allim di sekitar Duri Kosambi diantaranya kepada KH. Muhammad Arsyad, KH. Ahmad Zaini, KH. Hadromi, KH. Abdul Hamid dan KH. Abdul Mubin yang dilaksanakan di rumah-rumah para mu’allim/guru dengan metode bandongan atau sorogan,
Kepada para mu’allim tersebut, KH. Mahfudz Asirun belajar tentang berbagai macam ilmu agama dengan memakai kitab-kitan salafi. Pelajaran yang paling disukai adalah ilmu alat seperti Nahwu, Shorof dan Al-Qur’an. Melihat kecerdasan, bakat dan kemampuan KH. Mahfudz Asirun, kakaknya yang bernama KH. Ahmad Ma’ruf yang saat itu mahasiswa IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyarankan agar adiknya melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren An-Nida Al-Islamy Bekasi.
Beliaupun menyetujui saran dari kakaknya, dengan restu dari kedua orangtuanya beliaupun berangkat menimba ilmu ke Pondok Pesatren An Nida Al Islamy yang diasuh oleh Syekh Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dary. Dengan bekal ilmu yang sudah dimiliki, beliaupun mampu menyerap berbagai macam ilmu dari Syekh Muhajirin, baik Nahwu, Shorf, Fiqih, Tauhid, Tsawuf, Tafsir, Falaq dan terutama Ilmu Hadis yang menjadi spesialisasi Syekh Muhajirin.
Bahkan beliau menjadi salah satu murid kesayangan dan kepercayaan Syekh Muhajirin karena kecerdasan dan keseriusannya dalam belajar ilmu agama. Hampir disetiap ta’lim Syekh Muhajirin beliau sering kali disuruh untuk membacakan kitab
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

