KH. Ahmad Qusyairi Ulama Nahdlatul Ulama Pasuruan Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengajar di Pondok Pesantren
3.2 Menolak Menjadi Adipati Pasuruan
3.3 Menjadi Penyalur Haji
4. Karya-Karya
5. Referensi
6. Chart Silsilah Sanad
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Ahmad Qusyairi lahir pada hari Sabtu Pon 11 Sya’ban 1311 H atau 17 Februari 1894 M di Lasem (Sumbergirang). Beliau adalah putra keempat dari 23 bersaudara, dari pasangan KH. Muhammad Shiddiq dengan Nyai Maimunah (Masmunah).
1.2 Riwayat Keluarga
Ketika KH. Ahmad Qusyairi masih kecil, ayahanda beliau berpindah ke Jember. Konon, kepindahan itu dikarenakan isyarat dari Rasulullah SAW melalui mimpi. Mimpi itu mengisyaratkan supaya beliau berpindah ke timur untuk berdakwah. Jember pun menjadi pilihan karena itulah yang diperintahkan oleh KH. Kholil Bangkalan, guru beliau.
Kebetulan Jember saat itu merupakan daerah gersang dari sisi dakwah. Penduduknya masih banyak yang tidak beragama atau beragama Hindu-Budha. (baca: “Biografi Mbah Shiddiq” oleh Afton Ilman) Di kota ini ada seorang saudagar kaya bernama H. Alwi. Dia memiliki lima buah pabrik selep beras dan 35 rumah besar. Dia sangat akrab dengan Kyai Shiddiq. Bahkan, tanah tempat berdirinya pesantren serta rumah Kyai Shiddiq di Talangsari adalah hasil waqaf dari H. Alwi.
H. Alwi rupanya menyimpan kesan mendalam kepada pemuda Kyai Ahmad Qusyairi, putra Kyai yang dikaguminya itu. Begitu terkesannya sehingga dia menuruti apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Misalnya, seperti dituturkan Kyai Hasan Abdillah, pemuda Kyai Ahmad Qusyairi menyarankan kepada H. Alwi supaya mengeluarkan zakat mal untuk hartanya yang berlimpah itu. “Ini harus dizakati,” katanya. “Baik,” jawab si saudagar.
H. Alwi tidak hanya mengamini, tapi juga menyerahkan soal perhitungan zakatnya kepada Kyai Ahmad, dan Kyai Achmad menjalankan tugas itu dengan baik setiap tahunnya. Alhasil, keduanya sudah seperti anggota keluarga, seperti bapak dan anak. Guna lebih melanggengkan hubungan keluarga tersebut, H. Alwi meminang pemuda Kyai Ahmad Qusyairi untuk menjadi menantunya. Tetapi manusia hanya bisa berencana, dan Allah yang menentukan. Pemuda Kyai Ahmad Qusyairi urung jadi menantu H. Alwi karena dijodohkan ayahandanya dengan putri KH. Yasin bin Rois Pasuruan. Bagaimana ceritanya?
Kyai Shiddiq, abah beliau, telah menjalin hubungan pertemanan dengan Habib Alwi bin Segaf As-Segaf Pasuruan melalui hubungan dagang. Keduanya memang sama-sama pedagang, tapi juga sama-sama wali. Dari Habib Alwi, Kyai Shiddiq mengenal Kyai Yasin bin Rois, seorang Kyai besar pengasuh Pesantren Salafiyah yang terletak di Desa Kebonsari, Pasuruan.
Suatu kali, ketika Kyai Shiddiq bersama pemuda Kyai Ahmad Qusyairi mengunjungi Habib Alwi, sang Habib menawarkan untuk menjodohkan putra Kyai Shiddiq itu dengan putri Kyai Yasin. Kyai Shiddiq menyatakan setuju. Kyai Yasin juga sepakat. Singkat cerita, Kyai Ahmad Qusyairi dinikahkan dengan Fatmah binti Kyai Yasin bin Rais.
Akan halnya H. Alwi, tentu saja dia merasa kaget. Dia lalu menuntut kepada Kyai Ahmad supay
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

