KH Masduqi Ali Ulama Nahdlatul Ulama Cirebon Jawa Barat
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profi KH. Masduqi Ali
- Kelahiran
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikan Pondok Pesantren
- Pengasuh Presiden Ke-4
- Teladan
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Masduqi Ali lahir pada tahun 1903 di sebuah rumah sederhana yang terletak di Blok Masjid, Gang Kelapa, Desa Asem Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon. Tanggal dan bulan yang tepat, baik secara kalender Hijriyah maupun Masehi, kapan Masduqi bayi dilahirkan sangat sulit penulis dapatkan informasinya.
Di kampung yang nan-asri itu, dari kecil sampai remaja, Masduqi dibimbing oleh Sang Ayah yang bernama Kiai Ali, yang berasal dari Desa Kedung-Jumbleng Kecamatan Argasunya Cirebon dan ibu bernama Nyai Satiah, yang asli dari Desa Asem. Kiai Ali, di samping mengasuh pesantren warisan dari ayah serta kakeknya, juga mempunyai tanah garapan untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani.
Keluarga
Ketika mesantren di Jombang, KH. Masduqi Ali mempunyai teman asal Cirebon bernama Sholihin, putra dari KH. Muhammad Amin Pesantren Babakan, salah satu Kiai berpengaruh di Cirebon. Karena kenal, tahu kualitas keilmuan, serta keakraban antar keduanya, Kiai Sholihin menawari sang adik bernama Munjiah untuk dinikahi sang kawan, singkat cerita menikahlah keduanya.
Menurut pengakuan Ny. Hj Munjiah, sendiri, beliau ketika menikah masih muda, yaitu berumur 16 tahun, sedangkan KH. Masduqi telah berumur 35 tahunan. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai mempunyai anak 11 anak, yaitu: Ahmad, Amin, Salim, Yahya, Subhi, Husni, Himayyah, Hamidah, Maghfuroh, Muhammad Sholeh, dan Shadaddy.
Menurut Sa’dullah Affandi, KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang sangat disiplin, tegas dalam mengambil keputusan. Tulisan beliau yang indah membuat penulis semakin ingin mendalami ilmu agama, setiap usai berjamaah shalat subuh, beliau mengajari santrinya di serambi masjid dan selalu mengukir goresan kapurnya di papan tulis dengan tulisan arab indah bergaya khat naskhi.
Memang selain beliau, di pesantren Babakan ada beberapa kiai yang mempunyai tulisan berkaligrafi seperti KH. Tamam Kamali dengan tulisan khath riq’ah-nya, KH. Muntab yang fanatik dengan gaya diwani-nya, juga ada master kaligrafer, yakni Kiai Qasim Muqawi, guru khath yang menginspirasi bakat seni saya, di samping kiai-kiai di atas tadi.
Sa’dullah merasa sangat beruntung bisa belajar langsung ke KH. Masduqi Ali, dahulu ayahnya menitipkan ke beliau beralasan ingin tabarrukan (ngalap berkah), karena KH. Masduqi Ali saat itu (1984) adalah sesepuh Pesantren Babakan bersama KH. Fathoni Amin. KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang alim, baik dalam disiplin ilmu fiqih, mantiq, balaghah dan nahwu.
Di lingkungan Pesantren Babakan, KH. Masduqi memang dikenal sosok yang dianggap “galak”, namun sebenarnya berhati lembut dan tegas. Sa’dullah lebih lanjut menuturkan contoh sifat lembut dan tegas dari KH. Masduqi Ali.
Ada satu hal yang menarik, ketika ayah Sa’dullah menitipkannya dan minta didoakan agar selama dia mondok supaya diberi kesabaran. Mendengar itu Kiai menjawab dengan nada tinggi: “kamu ini kaya Tuhan saja, gak boleh itu minta sabar, karena sabar itu sifat Allah yakni Asshobur”.
Bapak Sa’dullah terdiam sambil menunduk, baru kemudian kiai cerita yang lain, bahwa kiai kenal kakek Sa’dullah dan pernah ngaji sama kiai Masduqi. Padahal kakek Sa’dullah lebih sepuh, beliau mencontohkan bahwa orang dulu itu tawaddu’ mau ngaji sama yang lebih muda, walaupun belum tentu lebih alim. Dan belakangan Sa’dullah baru tahu kalau Kiai
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

