Sejak kecil hingga usia 8 tahun Kyai Hasyim Latief tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Oleh orang tuanya beliau dan kakaknya dikirim ke Pesantren Tebuireng. Sebab pada waktu itu belum banyak pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun ada sekolah formal waktu itu hanya ada di kota-kota besar.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Bergabung dengan Hizbullah
3.2 Kiprah di Nahdlatul Ulama
4. Karya-Karya
5. Karomah
6. Chart Silsilah Sanad
7. Referensi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
KH. M. Hasyim Latief lahir pada hari Rabu 26 Dulqoidah 1346 H atau pada 16 Mei 1928 di rumah H. Syukur (kakak dari Asiyah) di Desa Pakelan, Kediri. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Abdul Latief dengan Hj. Asiyah.
Pada usia 5 tahun (1933), KH. Hasyim Latief diajak pindah oleh orang tuanya ke daerah Jombang, yakni Desa Somobito. Semenjak pindah dari Kediri ke Jombang, ayahnya tetap menjalankan usaha sebagai pandai besi dan juga pedagang. Demikian juga ibunya ikut membantu mencari nafkah dengan membuat jajan gorengan, kemudian dititipkan ke penjual keliling.
Semenjak kecil Kyai Hasyim Latief dididik dan dilatih (ditempa) dalam situasi dan kondisi yang begitu keras, dengan disiplin yang tinggi, walaupun suasana kehidupan orang tuanya dalam kondisi berkecukupan pada waktu itu. Kemandirian dan kerja keras yang dilakukan H. Abdul Latief disaksikan oleh anak-anaknya termasuk Kyai Hasyim Latief pada waktu itu, menjadikan motivasi dorongan yang kuat bagi Kyai Hasyim Latief untuk melakukan usaha mandiri dengan membantu ibunya berjualan. Dengan menjual kue gorengan ibunya untuk dibawa keliling ke desa-desa sekitarnya.
Demikian juga sikap tegas dan disiplin dalam menjalankan perintah agama yang diterapkan H. Abdul Latief kepada anak-anaknya menjadikan Kyai Hasyim Latief tidak mudah mengeluh dan putus asa, tapi menjadikan anak yang percaya diri dalam kesederhanaan dan mampu selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dari pemberian yang diterima.
Perubahan terus berjalan, kehidupan Kyai Hasyim Latief terus berubah dari hasil tempaan (gemblengan) dari orang tuanya. Semula tidak bisa membaca dan menulis kini sudah mulai terlatih dan mengenal huruf arab dan latin yang diajarkan oleh ayahnya H. Abdul Latief seorang ayah yang penuh kasih sayang dan tegas dalam menjalankan perintah agama.
Sehingga kebutuhan akan pendidikan bagi anak-anaknya tetap menjadi perhatian, apalagi sebagai seorang pedagang yang harus memahami tentang pengaturan keuangan dan juga sebagai pegawai pencatat nikah di Kecamatan Sumobito. Sehingga wajar anak-anaknya mendapat didikan dan gemblengan yang lebih berat diantara anak-anak yang lain pada waktu itu.
1.2 Wafat
KH. M. Hasyim Latief wafat pada usianya yang ke-77, pada hari Selasa, 19 April 2005 pukul 12.05 dan beliau dimakamkan di Kompleks YPM Ngelom Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil hingga usia 8 tahun Kyai Hasyim Latief tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Oleh orang tuanya beliau dan kakaknya dikirim ke Pesantren Tebuireng. Sebab pada waktu itu belum banyak pen
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

