KH Mahfudz Anwar Ulama Nahdlatul Ulama Jombang Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
2.3 Pengasuh Pesantren
3 Karier, Karya dan Organisasi
3.1 Karya-karya
3.2 Karier
3.3 Organisasi
4 Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Mahfudz Anwar dilahirkan pada tanggal 12 April 1912 di Paculgowang, yang terletak 2 km di sebelah selatan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau adalah anak keenam dari 12 bersaudara, lahir dari pasangan ulama terkemuka, KH. Anwar Alwi dan ibu Khadijah.
Di antara saudara-saudaranya terdapat sosok ulama besar, yaitu KH. Anwar Ali, yang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasi'in di Pacul Gowang. KH. Anwar Alwi, ayah KH. Mahfudz, memiliki peran penting dalam sejarah pesantren, mengabdi pada periode yang sama dengan KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dan keduanya adalah murid dari ulama terkenal, KH. Kholil Bangkalan Madura.
1.2 Riwayat Keluarga
Ketika Mahfudz muda menuntut ilmu di pesantren KH. Ma'shum Ali Seblak, bakatnya dalam berbagai disiplin ilmu agama sangat mencolok, sehingga menarik perhatian KH. Ma’shum Ali untuk menjadikannya menantu.
Setelah kesepakatan dicapai antara Mahfudz Muda dan keluarganya, pernikahan antara Mahfudz (25 tahun) dengan Hj. Abidah (9 tahun) pun dilangsungkan.
Meskipun telah menikah, KH. Mahfudz tetap melanjutkan tugasnya sebagai pengajar di Pesantren Tebuireng pada siang hari dan pesantren Seblak pada malam hari. Baru kemudian, mereka resmi hidup sebagai pasangan suami-istri ketika Hj. Abidah mencapai usia 11 tahun.
1.3 Wafat
KH. Mahfudz Anwar wafat pada malam Jumat, 20 Mei 1999
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Masa Menuntut Ilmu
KH. Mahfudz Anwar tumbuh di dalam lingkungan religius dan keilmuwan agama yang tinggi. Mahfudz muda menamatkan sekolah dasarnya di pesantren Ayahnya sendiri di Paculgowang, kemudian melanjutkan ke Pondok Tebuireng.
Di Tebuireng mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, dst (kelas 1 sampai kelas VI). Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umurnya lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya.
Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. Banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat, misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

