KH. Imam Sonhaji merupakan pemimpin keempat yang meneruskan kepemimpinan dari KH. R. Haedar Dimyati. Pada tahun 1965 KH. Imam Shonhaji mulai menginjakan kaki di Sukamiskin sebagai santri, sampai pada akhirnya KH. Imam Shonhaji menikah dengan anak pertama KH. R. Haedar Dimyati yaitu Hj. Memunah Haedar.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi:
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.2 Kiprah di Nahdlatul Ulama
4. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Atang atau yang akrab dengan sapaan KH. Imam Shonhaji lahir di Subang pada tanggal 18 April 1942. Beliau merupakan anak ketiga dari pasangan H. Muhyiddin dan Hj Nuraenah.
1.2 Keluarga
KH. Imam Shonhaji menikah dengan Nyai Hj. Raden Maemunah Haedar, putri Pengasuh Ponpes Sukamiskin KH. Raden Haedar Dimyati. dari pernikahannya, beliau dikaruniai 11 orang anak (6 laki-laki dan 5 perempuan).
1.3 Wafat
KH. Imam Shonhaji wafat pada Desember 2009. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Sukamiskin, Bandung.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. Imam Shonhaji memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR), setelah selesai beliau meneruskan ke Madrasah Ibtidaiyah di Babakan Ciwaringin Cirebon. Kemudian melanjutkan pendidikannya lagi ke MTs dan MA Ponpes Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Setelah menuntut ilmu di Jawa Timur selesai, beliau merantau ke Bandung sambil belajar ngaji di Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
KH. Imam Sonhaji merupakan pemimpin keempat yang meneruskan kepemimpinan dari KH. R. Haedar Dimyati. Pada tahun 1965 KH. Imam Shonhaji mulai menginjakan kaki di Sukamiskin sebagai santri, sampai pada akhirnya KH. Imam Shonhaji menikah dengan anak pertama KH. R. Haedar Dimyati yaitu Hj. Memunah Haedar.
Setelah diangkat sebagai menantu pada atahun 1966, KH. R. Haedar Dimyati telah melihat sifat kepemimpinan dari KH. Imam Shonhaji. Berbeda dengan pemilihan atau penunjukan pemimpin sebelumya, dalam sebuah pesantren kepemimpinan yang diterapkan ialah gaya kepemimpinan secara turun-temurun, namun tidak ketika KH. Imam Shonhaji datang ke Pesantren Sukamiskin dan diangkat sebagai menantu.
Beliau diberikan amanat untuk memimpin pesantren menggantikan mertuanya yang telah meninggal yaitu KH. Raden Haedar Dimyati. Hal tersebut menjadi menarik ketika sistem yang biasanya orang yang menjadi pemimpin ialah berasal dari satu keturunan, namun ketika KH. Raden Haedar Dimyati meninggal beliau memilih menantunya untuk meneruskan kepemimpinan pesantren yaitu KH. Imam Shonhaji.
KH. Imam Shonhaji merupakan salah satu tokoh yang memiliki banyak kontribusi terhadap perkembangan Pesantren Sukamiskin. Pesantren Sukamiskin mengalami perubahan dalam hal
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

