KH. Ardani Ulama Nahdlatul Ulama Tangerang Banten
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Ardani (Abuya Ardani)
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Guru-Guru
- Mendirikan Pesantren
- Murid-Murid
- Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Ardani atau yang kerap di sapa dengan panggilan Abuya Ardani lahir pada tahun 1894 di Rajeg, Kampung Gunung. Beliau merupakan seorang anak tunggal dari pasangan KH. Idan dan Nyi Tiyeum.
Ayahnya KH. Ardani berasal dari Mengger, Cikaromoy. Sedangkan ibunya, Nyi Tiyeum, berasal dari Trumbu, Banten.
KH. Ardani memiliki tubuh tegap dan badan tinggi. Selain itu, ia memiliki kulit yang berwarna sawo matang, memiliki hidung yang mancung seperti keturunan Arab dan memiliki mata yang tajam.
Sejak kecil, KH. Ardani sudah menjadi yatim piatu, karena kedua orang tuanya wafat. Kemudian KH. Ardani di asuh oleh Ki Daim.
Wafat
KH. Ardani wafat pada usia 63 tahun atau tepatnya pada bulan Mei tahun 1957.
Keluarga
Pada usia yang masih 15 tahun, KH. Ardani melepas masa lajangnya dengan menikahi Zainab. Buah dari pernikahannya, mereka dikarunia tujuh orang anak, yang terdiri dari enam anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Menginjak usia ke ± 40 tahun, KH. Ardani menikah kembali dengan Umamah yang berasal dari Kampung Panggang, Desa Selapajang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang – Banten. Pada pernikahannya yang kedua ini, KH. Ardani dikaruniai tujuh orang anak.
Pendidikan
Pada usianya masih 7 tahun, KH. Ardani memulai pendidikannya dengan belajar agama, ilmu nahwu kepada Ki Ardani (Tegal Kunir). Beliau mengeyaman pendidikan bersama Ki Ardani (Tegal Kunir) hanya membutuhkan waktu 5 tahun. Akhirnya, KH. Ardani pun kembali pulang kepada Ki Daim.
Kemudian, Ki Daim menyerahkan KH. Ardani kepada Kiai Salmin. Dengan Kiai Salmin, KH. Ardani belajar mengenai Ilmu Fiqih. Tidak lama belajar dengannya, Kiai Salmin menyuruh KH. Ardani untuk belajar dengan seorang ulama yang berasal dari Rumpaksina, yakni Ki Musa (Rumpaksina).
Atas perintah dari Kiai Salmin, KH. Ardani pun pergi ke daerah Rumpaksina untuk menemui Ki Musa. Setelah bertemu dengan Ki Musa, Ki Musa pun menerima kedatangan dari KH. Ardani dengan sangat baik dan memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada KH. Ardani.
Hal itu dikarenakan, Ki Musa (Rumpaksina) telah mengetahui bahwa kelak KH. Ardani akan menjadi seorang ulama besar. Setelah KH. Ardani menimba ilmu dari berbagai guru. Maka, di tempat Ki Musa (Rumpaksina), KH. Ardani mempelajari Ilmu Ngelal (yakni untuk mengetahui asal kalimat), Ilmu Asal (yakni untuk mengetahui dari perlengkapan kalimat), Ilmu Alfiyah (yakni untuk menggali asal-usul kalimat dan mengetahui i‟robul kalimat), dan menggali Ilmu Fiqih.
Setelah dirasa KH. Ardani telah menguasai ilmu tersebut, Ki Musa (Rumpaksina) memberikan restu kepada KH. Ardani untuk meninggalkan pesantrennya dan pergi menimba ilmu di guru yang lain. KH. Ardani pun pergi menuju Kampung Bakom, di sana KH. Ardani mempelajari Ilmu Alat seperti Ilmu Mantiq, Ilmu Sullam Al-Taufiq, Ilmu Jauharmaknun, Ilmu Badi, Ilmu Bayan, Ilmu Ushul Fiqh, Ilmu Studi Banding Hadits, Ilmu Falak, ilmu Gerhana Bulan dan Matahari, mempelajari Ilmu Jam Al-Jawami, mempelajari Ilmu Tifan dari sanad-sanad ulama dan ucapan yang akan dijadikan sandaran hukum dinamakan Ilmu Hadis.
Setelah beberapa tahun KH. Ardani belajar dengan ulama di Kampung Bakom, KH. Ardani pun pergi menuju seorang ulama terk
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

