Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin

lahir 1952 M · 51.899 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin Langitan Nurul Haromain Pujon Ulama Nahdlatul Ulama

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir

2.     Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1   Mengembara Menuntut Ilmu

3.     Perjalanan Hidup dan dakwah
3.1   Perjuangan
3.2   Merintis Pesantren
3.3   Mencetak Kader

4.     Karya-Karya
5.     Chart Silsilah Sanad
6.     Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin adalah anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan keluarga Kyai Suhari dengan Ibu Banu Haya. Beliau lahir pada 10 Agustus 1952 di sebuah desa kecil di Kabupaten Lamongan. Lebih tepatnya di Desa Parengan Maduran, Lamongan, Jawa Timur. KH.  Muhammad Ihya’ Ulumiddin lahir dan dibesarkan di keluarga yang sederhana yang dikenal fanatik Islam. Dari kecil beliau sudah dididik dalam lingkungan yang agamis dari kedua orang tuanya. Semangat belajarnya tergolong tinggi terutama ilmu-ilmu agama, sebab sejak beliau masih anak-anak termasuk orang yang cinta ilmu pengetahuan, semangat belajarnya tak pernah padam sebagaimana ulama-ulama besar Nusantara.

Baca juga :  STAI Ma`had Aly Al-Hikam Malang

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin setelah lulus SR pada tahun 1964 lalu melanjutkan pendidikan di Pesantren Langitan di bawah asuhan KH. Abdul Hadi Zahid, seorang ulama kharismatik yang sangat terkenal dengan ke istiqamahannya. Kurang lebih sepuluh tahun mondok di Langitan kemudian melanjutkan magang sekaligus belajar di YAPI Bangil yang dinahkodai oleh Habib Husen Al-Habsyi sebelum beliau berubah faham sebagai seorang penganut Syiah. Dari Habib Husen inilah KH. M. Ihya’ Ulumiddin mengakui mengenal sesuatu yang dinamakan gerakan dakwah.

Dari persentuhan dengan Habib Husen ini pula, semangat mendalami ilmu dan memperjuangkan agama semakin membara dalam hati ustadz Ihya’ muda yang kala itu sudah mulai banyak dikenal sebagai seorang santri yang alim. Akhirnya sampailah pengembaraan ilmu di Tanah Haram Makkah yang pada gilirannya Allah mempertemukan beliau dengan guru murabbi Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki yang selalu beliau ceritakan segala tentangnya dalam kajian-kajian ilmu.

Setelah empat tahun berkhidmah dan belajar kepada Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, Ustadz Ihya’ pun kembali pulang ke Indonesia pada tahun 1980. Meskipun sudah berada di Indonesia, tetapi hubungan antara murid dan guru ini terus berkesinambungan hingga saat ini, saat pesantren Abuya telah diasuh oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliki. Wujud dari hubungan ini salah satunya adalah hingga kini mayoritas santri Indonesia yang bermaksud untuk mondok di Rushaifah Makkah harus terlebih dulu berstatus sebagai santri Ma’had Nurul Haromain Ngroto Pujon Malang. Sebuah hubungan yang tiada akhir yang semoga diberkahi dan dilanggengkan oleh Allah.

Baca juga :&nbs

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+