KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy Ulama Nahdlatul Ulama Situbondo Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
4. Organisasi
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Imdad atau yang akrab dengan sapaan KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy lahir pada 25 Januari 1980 di Desa Sukorejo Situbondo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Dhofier Munawwar dengan Nyai Hj. Zainiyah As’ad.
KH. Muhammad Imdad kecil terkenal sebagai anak yang sangat nakal. beliau sering melempar sesuatu jika ada yang mengganggu dirinya. Tidak jarang ibu asuhnya, Nyai Siti menerima bugem atau pukulan dari anak asuhnya.
Mengetahui cucunya suka marah seperti itu, KH. R. As'ad Syamsul Arifin meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Akhirnya, sekitar usianya yang masih 8 tahun, Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu KH. As’ad.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy menikah dengan Ning Sari. Pernikahan keduanya berawal dari wasiat yang disampaikan oleh kakaknya Nyai. Hj. Makkiyah As’ad bahwa, KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy dikawinkan dengan Ning Sari.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Dasar (SD) dan lulus pada tahun 1992. Kemudian, beliau kembali melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo. Masa pendidikannya di SMP yang merupakan milik dari keluarganya ini beliau tempuh dari tahun 1992-1994. Di SMP tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP nya, akhirnya pada tahun 1994, beliau pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995.
Kepindahan KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy ini atas inisiatif beliau sendiri. Alasan beliau untuk pindah dari sekolah karena merasa guru-gurunya memperlakukannya dengan istimewa.
Walau sebagai cucu KH. As’ad, ternyata beliau merasakan tidak nyaman dengan perlakuan guru-gurunya pada dirinya. Beliau pun meminta Sang Ummi untuk mencarikan tempat mondoknya yang baru. Atas hasil Istikhoroh dari Sang Ummi, beliau mantap untuk mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton yang diasuh oleh KH. Abdul Wahid Zaini.
Tidak ingin diperlakukan secara istimewa ditempat barunya ini, beliau tidak pernah sama sekali menampakkan kalau beliau adalah putra KH. Dhofier Munawwar. Di Pesantren inilah tampil apa adanya. Beliau sering menyapu dan cuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, beliau langsung pergi tanpa mau menerima imbalan yang ditawarkan kepadanya.
Merasa mendapatkan ketenangan di Pesantren ini, beliau kembali melanjutkan pendidikan formalnya ditempat yang sama, di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton. Perantauan ilmiyahnya di Paiton yang dimulai tahun 1994 ini berakhir sampai tahun 1998. Kemudian, Pada tahun 1998-1999 beliau kembali nyantri di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang yang diasuh oleh KH. M. Basori Alwi Murtadlo.
Pada tahun 1999, kembali mondok di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem, kemudian dilanjut belajar di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

