Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Iskandar Umar Abdul Latif, Pendiri Pesantren Darul Falah Pusat, Sidoarjo
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Iskandar Umar Abdul Latif, Pendiri Pesantren Darul Falah Pusat, Sidoarjo

1956 – 2010 M · 21.814 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Iskandar Umar Abdul Latif Ulama Nahdlatul Ulama Sidoarjo Jawa Timur

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren

4.    Teladan
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

KH. Iskandar Umar Abdul Latif lahir pada hari Kamis 1 Ramadhan atau 10 November 1956. Beliau adalah putra petani biasa, hampir tak ada yang istimewa kalau dilihat dari nasab beliau. Hanya saja kakek beliau yang terkenal kaya itu suka menolong dan dermawan. Beliau sendiri sedari kecil sudah mendapat pengajaran agama dan sempat menamatkan Madrasah Islamiyah di desanya.

1.2 Riwayat Keluarga
Sebenarnya banyak sekali calon-calon mertua yang ingin mengambil calon menantu pada KH. Iskandar, tapi setelah istikhoroh dan pertimbangan dengan KH. Idris Marzuki dan Abuya, maka terpilihlah gadis Khafidhoh putri KH. Mustofa dari Waru Sidoarjo yang bernama Umi Habibah dan dinikahkan langsung oleh Abuya di Waru Sidoarjo pada hari Kamis 27 Oktober 1983/20 Muharram. Dengan dihadiri oleh teman-teman beliau Abna’ul Abuya dari beberapa provinsi di Indonesia.

1.3 Wafat
Romo KH. Iskandar Umar Abdul Latif wafat pada hari Minggu 19 September 2010 dan dimakamkan di Komplek Pesantren Darul Falah Pusat, Sidoarjo.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Setamat dari Madrasah Islamiyah, beliau masih sangat kecil, hingga ibunya berniat mengundurkan mondok hingga tamat SMP saja. Memang benar di sana beliau tidak bisa menimba air dengan timba yang besar itu. Berbekal ketawakalan semua cobaan beliau hadapi tanpa rasa putus asa bahkan berpacu terus dalam menangkis beribu rintang yang menghadang.

2.1 Pendidikan
Mulailah beliau menekuni ilmu kepada KH. Marzuki (Almarhum) dan guru-guru lainnya. Tak dihiraukan lagi betapa jauh perbedaan hidup di Pesantren bila dibanding di rumah. Kalau waktunya makan, beliau paksakan walau rasanya ingin muntah, ikan asin yang dulunya melihat saja jadi pusing setelah di pesantren semua jadi tak asing.

Di sana beliau termasuk santri yang tekun, salah satu bukti dalam waktu lima belas hari sudah berhasil menghafal Imriti. Suatu ketika beliau diutus oleh Gus Kholil Ya’kub mengaji Ihya’. Semula merasa takut dan sungkan sebab pengajian itu diperuntukkan untuk ustadz-ustadz tapi karena perintah guru, akhirnya beliau ikuti dengan ikhlas.

Prinsip yang beliau pakai adalah “menjalankan sesuatu dengan ikhlas, istiqomah dan tawadhu’ pada guru”. Seperti dalam Shalat jama’ah terutama dalam masalah belajar ke mana dan di manapun berada kitab dan buku aktif sebagai teman duduknya. Di rumahpun prinsip itu diterapkan juga, saking senangnya dengan kitab-kitab, suatu waktu ke Ampel membeli kitab besar-besar meskipun belum dapat membacanya. Karena kelebihan itulah beliau banyak disenangi teman-teman dan guru-gurunya, sehingga banyak teman yang suka bergaul dengan beliau namun beliau selektif memilihnya.

Setelah enam t

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+