KH. Abdul Manan atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Jadug lahir pada tahun 1870, di Desa Grampang, Kabupaten Kediri. Beliau adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Abdul Manan (KH. Jadug Banyuwangi)
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikan Pesantren
- Mendirikan Lembaga Pendidikan
- Pejuang Melawan Penjajah
- Teladan
- Karomah
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Abdul Manan atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Jadug lahir pada tahun 1870, di Desa Grampang, Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra kedua dari KH. Moh Ilyas yang berasal dari Banten dengan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri).
Saat berusia 1 tahun, Kiai Jadug dibawa KH. Moh Ilyas pindah dari Grempol ke Desa Ngadirejo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Setelah pindah, ayahnya kemudian membuka pondok pesantren.
Wafat
KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H atau bertepatan pada tahun 1979 M. Jenazah beliau di makamkan masih di sekitar Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi Jawa Timur.
Baca Juga: Pesantren Minhajut Thullab Banyuwangi
Keluarga
KH. Abdul Manan melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH. Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia cerai dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo, Kandangan (Kediri).
Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH. Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.
Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar, beliau dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.
Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya, beliau dikaruniai 9 putra-putri yakni Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha.
Pendidikan
Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH. Moh Ilyas, Abdul Manan kecil melanjutkan pendidikannya dengan belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun beliau masuk Pondok Pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH. Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, beliau mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat beliau menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai N
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

