KH Achmad Badjuri ulama Nahdlatul Ulama Tulungagung Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Achmad Badjuri
- Kelahiran
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikaan Pondok Pesantren Madinul 'Ulum
- Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
- Teladan
- Chart Silsilah Sanad
- Referensi
1. Kelahiran
KH. Achmad Badjuri adalah anak kesebelas dari sebelas orang bersaudara, dari pasangan H. Puslan bin H. Thohir dengan ibu Hj. Sulmi binti Jayadi. Beliau lahir di Desa Campurdarat Tulungagung pada tahun 1938 M.
2. Keluarga
Pada usia 25 tahun, tepatnya pada tahun 1963, KH. Achmad Badjuri menikahi Hj. Muslihah binti H. Ahmad Salam, seorang gadis dari dari desa Jengles Pare kediri. Buah dari pernikahannya mereka dikaruniai 6 anak. Putra-putri beliau diantaranya :
- Ibnu Mundzir (meninggal usia 7 hari)
- Ali Mubarok
- Anis Rohillah (meninggal usia 6 tahun)
- Dewi Saudah
- H. Ali Musta’in
- Ali Imron
Kemudian KH. Achmad Badjuri menikah kembali dengan Hj. Namlatus Sholihah binti Haji Sholeh dari desa Campurdarat. Dari pernikahan yang kedua ini beliau di karuniai 5 anak. Putra-putri beliau diantaranya :
- Drs H. Ali Ma’dum
- H. Ali Ma’sud
- Lailatul Istifaiyah
- Siti Rohmah
- Ali Masykur
3. Pendidikan
KH. Achmad Badjuri kecil, memulai pendidikannya di sekolah dasar. Tapi dalam menempuh pendidikan dasarnya pada saat itu, sempat terganggu, karena pada tahun 1948, di Madiun ada peristiwa pemberontakan PKI dan dan agresi Belanda pada tahun 1949. Sehingga membuat beliau tamat sekolah tahun 1953.
Walaupun pendidikan sekolah dasar terganggu, justru membuat beliau semakin bersamangat untuk mendalami disiplin ilmu al-Qur’an. Beliau mengaji kepada sesepuh Campurdarat diantaranya, KH. Shodiqun, KH. Umar, dan KH. Zaini.
Beliau juga tabarukan pada almarhum Hadrotus Syekh KH. Dimyati Campurdarat (Beliau ini kakak kandung dari ibu Hj. Sulmi).
Pada Tahun 1945 M. Beliau berangkat mencari ilmu ke Pondok Pesantren Sumbergayam Jajar Kabupaten Trenggalek yang diasuh KH. Badrudin, KH. Abi Sujak atau KH. Darwi dan KH. Mahfud.
Setelah dua setengah tahun di sana karena Mbah Badruddin wafat, maka beliau oleh Mbah Darwi diperintah untuk pindah ke Pondok Pesantren Sidorangu, Krian Sidoarjo yang diasuh oleh KH. Sahlan, untuk belajar Ilmu hal (Ilmu tingkah laku/tasawuf).
Sesudah dua setengah tahun berguru disana, beliau terdorong untuk melanjutkan pendidikannya, kemudian, beliau pindah ke Pondok Pesantren Berasan Banyuwangi yang diasuh oleh KH. Abdul Manan dan KH. Iskandar.
Di sana beliau mengaji kitab Tafsir Jalalain dan al-Qur’an Kepada KH. Abdul Manan, dan kitab Ihya’ Ulumuddin kepada KH. Iskandar
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

