KH. Noor Ahmad lahir pada hari Kamis Kliwon 14 Desember 1932 M/ 19 Rajab 1351 H, di Robayan, Jepara. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Shiddiq bin Saryani dan Hj. Sawinah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Kiprah di Nahdlatul Ulama
4. Karya-karya
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Noor Ahmad lahir pada hari Kamis Kliwon, 14 Desember 1932 M/19 Rajab 1351 H di Robayan, Jepara, putra dari pasangan KH. Shiddiq bin Saryani dan Nyai Hj. Sawinah.
1.2 Wafat
KH. Noor Ahmad wafat pada hari Rabu, 20 Juni 2012. Sebelumnya, kondisi beliau baik-baik saja. Namun, pada pukul 08.30 WIB, kondisi beliau tiba-tiba menurun. Beliau kemudian dibawa ke RSUD Kudus, dan pada pukul 10.00 WIB, KH. Noor Ahmad menghembuskan nafas terakhirnya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Kyai Noor Ahmad memulai perjalanan pendidikannya di madrasah yang ada di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar tersebut, beliau melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah Tasywiq Al-Thullab Salafiyah (TBS) di Kudus. Di TBS, Kyai Noor Ahmad menekuni Ilmu Falak, sebuah disiplin yang mempelajari pergerakan benda langit dan penggunaannya dalam penentuan waktu ibadah.
Beliau belajar Ilmu Falak menggunakan kitab yang disusun oleh KH. Mawardi dari Solo. Pada masa itu, Kyai Noor Ahmad menyalin kitab tersebut dengan tinta tutul, metode tradisional yang digunakan oleh santri zaman dahulu untuk memberi makna pada kitab kuning.
Keistimewaan cara belajar Kyai Noor Ahmad kepada Mbah Toor, sapaan akrab KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, adalah bahwa beliau belajar langsung tanpa menggunakan kitab panduan. Ini menunjukkan tingkat kecerdasan dan kesungguhan Kyai Noor Ahmad dalam menekuni ilmu yang diajarkan.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kudus, Kyai Noor Ahmad melanjutkan pengembaraannya ke berbagai pesantren di Jawa. Beliau pernah belajar di Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Langitan, Pesantren Lasem, dan Pesantren Salatiga. Sebelum memulai pengembaraannya, Kyai Noor Ahmad mendapatkan restu dari gurunya, KH. Turaichan, setelah dianggap telah cukup menguasai dasar-dasar Ilmu Falakiyah.
Selama di Salatiga, Kyai Noor Ahmad belajar kepada Kyai Zubair Umar Al-Jaelani, pengarang kitab Al-Khulashah Al-Wafiyah. Adapun selama di Pesantren Langitan, beliau mengaji kepada KH. Abdul Hadi dan akrab dengan KH. Abdullah Faqih, yang merupakan teman satu angkatannya.
Selain belajar secara jasmaniah, Kyai Noor Ahmad juga diperintahkan oleh gurunya, KH. Turaichan, untuk berguru secara ruhaniah. Cara berguru ini berupa perjalanan ziarah kepada para ulama ahli Falak yang telah wafat. Kyai Noor Ahmad sering mendapat perintah untuk berziarah ke makam-makam ulama Falak, seperti makam Raden Dahlan di Semarang, seorang ulama ahli falak pada zamannya. Perjalanan ini memperdalam pengetahuan dan pengalaman spiritualnya dalam Ilmu Falak, memperkaya wawasan dan metode perhitungan yang dikuasainya.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi
2. Kyai Zubair Umar Al-Jaelani
3.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

