KH. Turaichan Adjhuri atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Tur lahir di Kudus pada tanggal 22 Rabiul Akhir 1334 H atau 10 Maret 1915 M. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Adjhuri dengan Nyai Dewi Sukainah.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Pesan Mbah Tur
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Turaichan Adjhuri atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Mbah Tur lahir di Kudus pada tanggal 22 Rabiul Akhir 1334 H atau 10 Maret 1915 M. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Adjhuri dengan Nyai Dewi Sukainah.
Mbah Tur dikenal sebagai tokoh Pakar Ilmu Falak atau Astronomi dan terkenal dengan keteguhannya memegang prinsip dan aqidah. Selain itu, nasab Mbah Tur dari jalur ayahnya sampai kepada Syekh Ja'far Shadiq atau Sunan Kudus.
1.2 Wafat
Pada malam Sabtu 9 Jumadil Awal 1420 Hijriah bertepatan 20 Agustus 1999, Pakar Ilmu Falak di Jawa Tengah ini menghadap Allah SWT dalam usia 84 tahun, Mbah Tur dimakamkan di Kudus.
1.3 Riwayat Keluarga
Pada tahun 1942, ketika Mbah Tur berumur 27 tahun, beliau menikah dengan seorang gadis sholehah bernama Masni`ah binti Marwan. Dari pernikahannya dengan Nyai Masni`ah beliau dikaruniai 10 orang putra dan putri.
Namun kini yang masih hidup hanya 4 orang (2 putra dan 2 putri) yaitu KH. Choirozad yang sekarang mengajar di Madrasah TBS Kudus. Anak beliau yang kedua dan ketiga adalah perempuan yang bernama Fihris dan Naila. Putra beliau yang terakhir bernama Drs. Sirril Wafa, MA yang sekarang menjadi Dosen di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Pada tahun 1969 untuk pertama kalinya beliau berangkat ibadah haji untuk pertama kalinya dan pada tahun 1992 beliau kembali berangkat haji ke Tanah Suci bersama putranya yang bernama KH. Choirozad dan ulama Kudus lainnya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Mbah Tur pada masa kanak-kanaknya tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Mbah Tur kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang cinta agama dan ilmu pengetahuan. Sejak kecil sudah tampak kecintaannya pada ilmu agama. Waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, mengaji dan muthalaah kitab. Beliau terkenal dengan anak yang cerdas, tegas dan teliti. Inilah ciri khas beliau yang dimiliki sejak kecil dan melekat sampai dewasa.
Saat kanak-kanak, beliau tidak begitu suka pada olahraga fisik. Namun ada satu jenis permainan olah otak dan pikiran yang sangat beliau gemari yaitu catur. Beliau terkenal sangat pandai dalam bermain catur. Bahkan di masa kolonial Belanda beliau pernah diberi penghargaan karena kepiawaiannya dalam bermain catur. Selain gemar bermain catur, sejak kecil beliau sudah menyukai seni bermain rebana. Kegemarannya bermain rebana ini terus berlanjut sampai beliau dewasa dan menjadi ulama besar.
Berkat keahliannya tersebut, ada sebuah kisah yang mengatakan ketika Madrasah TBS, tempat beliau mengajar, membuat Grup Rebana beliau sangat mendukungnya. Bahkan akhirnya Grup Rabana TBS ini pernah menjuarai lomba rebana IPNU-IPPNU Kota Kudus.
Selain itu, Mbah Tur dalam menimba ilmu tidak seperti ulama besar pada umumnya, karena Mbah Tur tidak pernah secara resmi menjadi santri di pesantren manapun. Hanya saja beliau memang hidup di Kota Santri Kudus dan di lingkungan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

