Selama hidupnya, KH. Maksum juga aktif di pergerakan sosial, politik, maupun pendidikan. Pada tahun 1940, beliau ditunjuk oleh warga Nahdliyin sebagai wakil Syuriah NU, Jombang, antara Tahun 1946-1948, beliau aktif sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Jombang.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
1.3 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Pengasuh Pesantren
3.1 Kiprah di Nahdlatul Ulama
4. Chart Silsilah Sanad
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Maksum lahir pada tanggal 21 Februari 1911 M di Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari pasangan KH. Kholil Rejoso dengan Nyai Siti Fatimah. Seperti halnya sang kakak, masa kecilnya diasuh dan dididik secara langsung oleh ayahnya sendiri. Pada tahun 1920 beliau diikutkan dalam rombongan haji ke Tanah Suci bersama keluarganya sekaligus berziarah ke tempat-tempat suci di sana.
1.2 Keluarga
Pada tahun 1938, KH. Maksum dinikahkan dengan seorang putri dari H. Hasyim, Jagalan, Jombang, yang bernama Nyai Chasanah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 2 putri dan 5 putra. Anak-anak beliau diantaranya: Chafsoh, Abdul Channan, Abdul Hakam, Siti Aisyah, Abdul Hafidz, Abdul Hakim, dan Abdul Halim.
1.3 Wafat
KH. Maksum wafat pada tanggal 26 Rajab 1380 H/14 Januari 1961 M, dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sepulangnya dari Tanah Suci, KH. Maksum dipondokkan di Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asyari sampai tahun 1926. Tahun 1926 hingga 1928, beliau berguru lagi kepada ayahnya serta pamannya, KH. Romly Tamim.
Pada akhir tahun 1928, beliau berkesempatan melanjutkan nyantri bersama kakaknya di Saudi Arabia pada Madrasah As-Shaulatiyah Al-Hindiyah di bawah asuhan Syekh Salim Al-Hindi. Di tahun 1935, Maksum mempunyai karir baru sebagai tenaga pengajar di Madrasah Darul Ulum, Makkah, dan beliau baru kembali ke Tanah Air tahun 1937.
Sekembalinya ke Tanah Air, rasa cintanya terhadap ilmu tidaklah padam, bahkan kian menggebu. Hal ini beliau buktikan dengan nyantri lagi di Pondok Pesantren Sedayu, Gresik. Di pondok ini, beliau memperdalam lagi ilmu Qiraat Al-Qur’an seni baca ayat-ayat suci Al-Qur’an.
2.2 Guru-Guru
1. KH. Kholil Rejoso,
2. KH. Hasyim Asyari, Pesantren Tebuireng Jombang,
3. KH. Romly Tamim,
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

