KH. Abdul Mannan Klaten adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Abdul Mannan Klaten
Kelahiran
KH. Abdul Mannan Klaten dilahirkan di daerah Pengkol, Kaligawe, Pedan, Klaten. Beliau merupakan putra dari keempat dari empat bersaudara, dari KH. Abdul Ghoni. Saudara-saudara beliau diantaranya, Nyai Sayuti, Kiai Umar, dan Kiai Abu ‘Ammar.
Nasab beliau dari jalur ayah sebagai berikut: Kiai Abdul Ghoni bin Kiai Maulani bin Kiai Muqoyyad bin Kiai Muqdi (Muqowi) bin Kiai Fatuhudin (Gumantar Juwiring) bin Kiai Dipokerti (berasal dari Ponorogo, dekat dengan Kiai Besari).
Kakek mereka yang bernama Kiai Muqoyyad menjadi salah satu panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) yang bergelar Singa Waspada. Di wilayah Klaten, Kiai Muqoyyad yang memiliki senjata bernama Kiai “Royyan” berjuang bersama Kiai Imam Rozi (Singa Manjat). Dalam perjuangannya, ia gugur dan dimakamkan di daerah Juwiring.
Wafat
KH. Abdul Mannan wafat pada usia 83 tahun atau lebih tepat pada tahun 1972. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat Masjid Al-Ikhlas.
Pendidikan
Ketika masih muda, Abdul Mannan selain berguru kepada ayahnya juga nyantri ke Pesantren Tempursari Klaten di bawah asuhan Kiai Zaid. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Pesantren Jamsaren Solo yang diasuh Kiai Idris, yang juga putra dari gurunya di Tempursari. Ia juga nyantri di Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan di Pesantren Kadirejo Karanganom kepada Kiai Ahmad.
Di Jamsaren, ia dan kakaknya mengaji kepada Kiai Idris. Di sela waktu belajarnya, ia juga diberi tugas untuk menjaga perpustakaan Madrasah Mambaul Ulum. Sedangkan, sang kakak (Kiai Abu ‘Ammar) menjadi menantu Kiai Idris dan sepeninggal Kiai Idris (wafat tahun 1923), estafet sebagai pengasuh Pesantren Jamsaren bahkan dipercayakan kepadanya (Kiai Abu ‘Ammar wafat wafat tahun 1965 dan digantikan Kiai Ali Darokah).
Selepas nyantri ke berbagai pesantren tersebut, Abdul Mannan kembali ke Pengkol untuk melanjutkan perjuangan dakwah sang ayah. Di sebuah musholla yang sudah dibangun kakeknya sejak sekitar tahun 1800-an, ia mengajar masyarakat sekitar, bahkan hingga ke Batur Ceper. Ia juga ditunjuk menjadi pengulu di Kecamatan Pedan.
“Saya pernah ikut pengajian Simbah (Kiai Abdul Mannan, pen), yang saya ingat waktu itu lampunya masih pakai lampu sentir, suguhannya jajanan karak dan wedang gula jawa,” kenang Bambang, yang pada saat saya wawancarai, sudah berusia 64 tahun.
Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
Nama Kiai Abdul Mannan tercatat pernah beberapa kali mewakili NU Cabang Klaten di perhelatan Muktamar NU. Dari data laporan Muktamar NU yang dimiliki penulis, sejak Muktamar NU yang pertama pada tahun 1926, nama Kiai Abdul Mannan dari Klaten tercantum dua kali, yakni pada penyele
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

