KH. Masyhud Solo adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Masyhud Solo
- Kelahiran
- Wafat
- Keluarga
- Pendidikan
- Mendirikan Pesantren
- Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
- Chart Silsilah Sanad
Kelahiran
KH. Masyhud lahir pada tahun 1876 M, di Solo (beberapa sumber menyebutkan tempat lahir di Bonang Lasem Rembang). Beliau merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, dari Kiai Qosim
Nama kecilnya yakni Mustahal, yang kemudian berganti menjadi Masyhud saat ia pergi haji dan belajar di Makkah. Nama Mustahal ini pula yang kelak kemudian juga diberikan kepada salah satu putranya, Mustahal Ahmad.
Wafat
KH. Masyhud wafat pada tahun 1950. Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Tipes Surakarta.
Keluarga
KH. Masyhud melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang perempuan asli Kauman Solo. Pada tahun 1912, Kiai Masyhud dikaruniai anak pertama, seorang putri yang kelak akan menjadi tokoh srikandi NU, Mahmudah Mawardi.
Di tahun-tahun berikutnya, menyusul kemudian lahir 4 anak, yang kesemuanya putri. Mereka adalah Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah, dan Mahmulah. Hingga akhirnya, dari istri yang pertama ini total mereka dikaruniai 5 putri.
Setelah sang istri meninggal, Kiai Masyhud menikah lagi dengan Nyai Syuaibah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu-satunya putra yang diberi nama Mustahal Ahmad.
Pendidikan
KH. Masyhud menghabiskan dunia pendidikannya dengan belajar di beberapa pesantren, di antaranya ia pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan. Setelah selesai, Masyhud kemudian berangkat ke Makkah.
“Mbah Masyhud ini pergi ke Mekkah, ulama seangkatan beliau KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri. Satu perguruan. Kalau Mbah Masyhud ini lebih memilih Nahwu Shorof, sehingga disebut ulama spesialisasi nahwu,” terang sang cucu, Chalid Mawardi.
Rupanya, kecintaan Kiai Kholil Bangkalan terhadap ilmu nahwu, khususnya bait-bait dari kitab Alfiyah ibnu Maliki, juga ikut menurun kepada Masyhud.
Selepas menimba ilmu di Makkah, ia pun kembali ke Tanah Air. Ada sebuah kisah yang dituturkan salah satu cucu Kiai Masyhud, Nasirul Umam, di mana ketika Kiai Masyhud pulang dari Makkah ia sempat mampir ke Pesantren Sarang.
“Di Sarang, Mbah Masyhud ninggali kitab, yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan di sana,” terang Nasirul Umam.
Mendirikan Pesantren
Setelah mendirikan rumah di daerah Keprabon kelak populer disebut dengan nama Pesantren Al-Masyhudiah, merujuk pada nama sang pengasuh.
Rumah Kiai Masyhud terletak di sebelah timur langgar Keprabon Wetan. Langgar tersebut, pada masa itu juga menjadi tempat tinggal (kos) sekitar 25 santri, termasuk di antaranya Saifuddin Zuhri muda.
Selain menjadi tempat tinggal, langgar tersebut berfungsi sebagai tempat belajar. Mereka belajar bersama, berdiskusi, memusyawarahkan berbagai kebutuhan organisasi pelajar ataupun kebutuhan pribadi.
Sedangkan untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dalam pelajaran ilmu Nahwu, para santri tersebut belajar kepada Kiai Masyhud. Para santri yang belajar kepada Kiai Masyhud berasal dari dalam Kota Solo maupun di sekitarnya. Adapun kitab yang dipakai sebagai pedoman adalah Alfiah Ibnu Malik, hingga Kiai Masyhud kadang disebut sebagai “Kiai Alfiah”.
Pada zaman itu, para santri, kon
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

