Biografi KH. Bisri Syansuri

 
Biografi KH. Bisri Syansuri

Daftar Isi Profil KH. Bisri Syansuri

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Salah Satu Pendiri NU
  5. Mendirikan Pondok Pesantren
  6. Karya dan Jasa KH. Bisri
  7. Mendirikan Pesantren Perempuan Pertama
  8. Memimpin NU dan Pejuang RUU Perkawinan Orde Baru
  9. Ahli dan Pecinta Fiqh
  10. Menjadi Politisi Tangguh
  11. Perjuangan KH. Bisri
  12. Kisah Teladan

Kelahiran

KH. Bisri Syansuri dilahirkan di Desa Tayu, Kabupaten Pati, Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 28 Dzulhijjah 1304 H / 18 September 1886. Beliau merupakan anak ketiga dari pasangan KH. Syansuri dan Nyai Mariah.

Wafat

KH. Bisri Syansuri wafat pada umur 93 tahun, tepatnya pada tanggal 25 April 1980. Beliau dimakamkan di komplek Pesantren Denanyar (PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang).

Pendidikan

Semasa kecil, Bisri belajar pada KH. Abd Salam, seorang ahli dan hafal al-Qur’an dan juga ahli dalam bidang fiqih. Atas bimbingannya ia belajar ilmu nahwu, saraf, fiqih, tasawuf, tafsir, hadits. Gurunya itu dikenal sebagai tokoh yang disiplin dalam menjalankan aturan-aturan agama. Watak ini menjadi salah satu kepribadian Bisri yang melekat di kemudian hari. 

Sekitar usia 15 tahun, Bisri mulai belajar ilmu agama kepad kedua tokoh agama yang terkenal pada waktu itu yaitu KH. Kholil Kasingan Rembang dan KH. Syu’aib Sarang Lasem. Kemudian ia melanjutkan berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya.

Setelah berguru kepada Syaikhona Kholil, Bisri kemudian berguru kepada Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Di pesantren itu, ia belajar selama 6 tahun. Ia memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.

Pada tahun 1912 sampai 1913 Kiai Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekah bersama Abdul Wahab Hasbullah. Di kota suci  itu, mereka belajar kepada:

  1. Syekh Muhammad Bakir
  2. Syekh Muhammad Said Yamani
  3. Syekh Ibrahim Madani
  4. Syekh Al-Maliki

Juga berguru kepada guru-guru KH. Hasyim Asy'ari, yaitu

  1. KH. Ahmad Khatib Padang
  2. Syekh Mahfudz Tremas 

Salah Satu Pendiri NU

KH. Bisri Syansuri termasuk salah seorang Kiai yang hadir dalam pertemuan 31 Januari 1926 di Surabaya, saat para ulama menyepakati berdirinya organisasi NU. Kiai Bisri duduk sebagai A’wan (anggota) Syuriah dalam susunan PBNU pertama kali itu.

Sejak KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947, jabatan Rais Akbar dihapuskan, diganti dengan Rais ‘Aam. Posisi itu dijabat oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, di mana K.H. Bisri Syansuri ditetapkan sebagai wakilnya. Tahun 1971 ia menggantikan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai Rais ‘Aam sampai akhir hayatnya.

Mendirikan Pondok Pesantren

Ketika berada di Mekkah, Kiai Bisri Syansuri menikahi adik perempuan Abdul Wahab Hasbullah. Sepulangnya dari Mekkah, beliau menetap di pesantren mertuanya di Tambak Beras, Jombang, selama dua tahun.

KH. Bisri kemudian berdiri sendiri dan pada 1917 mendirikan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Saat itu, Bisri Syansuri adalah kiai pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri perempuan di pesantren yang didirikannya. Pergerakan dan politik

Karya dan Jasa KH. Bisri

Dalam diri KH. Bishri Syansuri paling tidak melekat tiga karakter sekaligus. Yaitu sebagai perintis kesetaraan gender dalam pendidikan di pesantren, seorang ahli dan pecinta fiqh dan sekaligus seorang politisi.

Mendirikan Pesantren Perempuan Pertama

Kiai Bisri merupakan salah satu sosok ulama pertama yang mendirikan kelas khusus untuk santri-santri perempuan di pesantren yang didirikannya. Pada saat itu, pesantren yang didirikannya, baru diikuti perempuan-perempuan di desanya.

Sang Guru, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang mengetahui hal tersebut, Mbah Hasyim membiarkan dan mendukung apa yang dilakukan oleh muridnya. 

Menurut Gus Dur, langkah Kiai Bisri ini adalah hal yang menarik. Sebab, ketika sahabat-sahabat karibnya saat di Mekkah mendirikan cabang Sarekat Islam, Kiai Bisri mendirikan kelas khusus perempuan.

Memimpin NU dan Pejuang RUU Perkawinan Orde Baru

Ketika NU secara formal tergabung dalam partai berlambang ka’bah itu. Salah satu prestasi yang paling mengesankan, ketika Kiai Bisri berhasil mendesakkan disyahkannya UU perkawinan hasil rancangannya bersama-sama ulama NU. Padahal sebelumnya pemerintah sudah membuat rancangan undang-undang perkawinan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Setelah Kiai Abdul Wahab Hasbullah wafat, Rais Aam NU berada di pundak Kiai Bisri Syansuri pada tahun 1972, era mulai menguatnya pemerintahan Orde Baru. Tantangan besar yang pertama adalah munculnya sebuah Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang secara keseluruhan berwatak begitu jauh dari ketentuan-ketentuan hukum agama, sehingga tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya. Sangat menarik untuk diikuti bahwa proses perundingan dalam upaya menyetujui RUU tersebut agar menjadi Undang-Undang (UU) berlangsung sangat alot dan ketat.

Isi RUU Alternatif rancangan para ulama yang dimotori KH. Bisri Syansuri, yang meliputi:

pertama, Perkawinan bagi orang muslim harus dilakukan secara keagamaan dan tidak secara sipil (pasal 2: NU berhasil memenangkan pendapatnya); 

Kedua, masa ‘iddah, saat istri mendapatkan nafkah setelah diceraikan harus diperpendek. Pemerintah mengusulkan satu tahun, sedangkan NU minta tiga bulan karena menuntut seorang dari Muslimat, suami berhak rujuk kembali kepada istri selama masa ‘iddah itu. Tidak ada perkecualian diberlakukan bagi wanita usia lanjut.

Ketiga, pernikahan setelah kehamilan di luar nikah tidak diizinkan. NU cukup berhasil dalam arti definisi anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan.

Keempat, pertunangan dilarang karena “dapat mendorong ke arah perzinahan. NU berhasil, pasal 13 ini dihapus. 

Kelima, Anak angkat tidak memiliki hak yang sama dengan anak kandung. Dalam hal ini NU berhasil; pasal 42 mengatakan bahwa anak yang sah adalah yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan. 

Keenam, penghapusan sebuah pasal dari rancangan undang-undang yang diajukan yang menyatakan bahwa perbedaan agama bukan halangan bagi perkawinan. Pasal 11 ini dihilangkan dan tidak disinggung. 

Ketujuh, batas usia yang diperkenankan untuk menikah ditetapkan adalah 16 tahun, bukan 18 tahun bagi wanita 19 tahun bagi pria dan bukan 21 tahun. Pada pasal 7 ini, NU berhasil.

Kedelapan, penghapusan pasal mengenai pembagian rata harta bersama antara wanita dan pria karena dalam Islam “hasil usaha masing-masing suami atau istri secara sendiri-sendiri menjadi milik masing-masing yang mengusahakannya”. Pada pasal ini, NU berhasil. 

Kesembilan, NU menolak larangan perkawinan antara dua orang yang memiliki hubungan sebagai anak angkat dan orang tua angkat atau anak-anak dari orang tua angkat. Pasal ini disempurnakan menjadi hubungan sebagai anak angkat tidak dilarang, tetapi disinggung pula soal hubungan persusuan.

Kesepuluh, NU menolak larangan melangsungkan perkawinan lagi antara suami-istri yang telah bercerai. Dalam pasal 10 ini, NU berhasil. Perlawanan NU dalam RUU Perkawinan di awal Orde Baru tersebut tidak terlepas dari Kiai Bisri Syansuri ahli fiqih yang telah matang, bersama kiai-kiai NU lain.

Ahli dan Pecinta Fiqh

Karakter sebagai pecinta Fiqh terbentuk ketika Kiai Bisri nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan, dan semakin menguat setelah nyantri di Tebuireng.

Kiai Bisri sangat mendalami pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, terutama literatur fiqh lama. Tidak mengherankan jika Kiai Bisri begitu kukuh dalam memegangi kaidah-kaidah hukum fiqh, dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fiqh kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik.  Hal ini lah yang membuat, Kiai Bisri menjadi tidak kaku dan kolot dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Menjadi Politisi Tangguh

Persinggungannya dengan politik praktis diawali ketika Kiai Bisri bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili Masyumi, Kiai Bisri menjadi anggota Dewan Konstituante dan puncaknya ketika dipercaya menjadi Ketua Majelis Syuro PPP.

Hasil pemilu 1955 mengantarkan dirinya menjadi anggota Konstituante, sampai lembaga itu dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat dekrit Presiden 5 Juli 1959. Hasil Pemilu 1971 mengantarkan Kiai Bisri kembali duduk sebagai anggota DPR RI dari unsur NU. Jabatan itu dipegangnya sampai beliau wafat.

Perjuangan KH. Bisri

Pada masa perjuangan kemerdekaan, ia bergabung ke dalam barisan Sabilillah dan menjabat sebagai Kepala Staf Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBO-DT) yang kantornya di belakang pabrik paku Waru, Sidoarjo.

Kisah Teladan

Pada suatu Jum’at, KH. Bisri Syansuri sedang melaksanakan salat di masjid Mataraman Jakarta. Di masjid ini pula Bung Hatta istiqamah melaksanakan shalat. Pada saat itu, Kiai Bisri melihat Bung Hatta sedang salat dan saat bersujud dahinya masih tertutup oleh peci hitamnya.

Setelah Bung Hatta selesai salat, Kiai Bisri dengan ramah memperkenalkan diri, sekaligus dengan lembut mengingatkan Bung Hatta jika dalam salat, dahi tidak boleh tertutup oleh peci. Setelah itu setiap kali Bung Hatta memasuki masjid pecinya langsung didongakkan ke belakang sehingga tidak menutupi dahi ketika melangsungkan sujud.