KH. Saleh Lateng Banyuwangi adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mengajar Santri
3.2 Melawan Penjajah
3.3 Kiprah di Nahdlatul Ulama
3.4 Garda Depan Revolusi Jihad
3.5 Kisah Pindah ke Banyuwangi
4. Karomah
5. Chart Silsilah Sanad
6. Referensi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
KH. Saleh lahir pada hari Ahad 6 Ramadhan 1278 H/07 Maret 1862 M, di Kota Mandar, Banyuwangi. Beliau merupakan putra dari pasangan Ki Agus Abdul Hadi dengan Nyai Aisyah. Kyai Saleh yang memiliki nama kecil Ki Agus Muhammad Saleh ini memiliki jalur nasab hingga Raja Palembang Darussalam, Fatahillah hingga Rasulullah SAW.
1.2 Wafat
KH. Saleh Lateng wafat pada malam Rabu, 29 Dzulqoidah 1371 H/20 Agustus 1952 pada usia 93 tahun. Jenazahnya disemayamkan di sebelah mushala (Langgar), tempat Kyai Saleh Lateng biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, Ki Agus Muhammad Saleh telah mengaji kepada orang tuanya. Beliau mendapat didikan sebagai seorang santri, belajar Al-Qur'an dan kajian keislaman dalam tradisi pesantren. Pada usia remaja, sekitar usia 15 tahun, KH. Saleh mengaji di Pesantren Kebondalem Surabaya, asuhan Kyai Mas Ahmad. Kemudian, beliau melanjutkan mengaji kepada Syaikhona Khalil di Bangkalan Madura, lalu tabarrukan kepada Tuan Guru Muhammad Said di Jembrana Bali. Selepas mengaji di Jawa, Madura dan Bali, KH. Saleh kemudian melanjutkan mengaji di Makkah.
Ketika belajar di Makkah, KH. Saleh telah dianggap sebagai rujukan keilmuan, beliau mengajar beberapa santri di Kota Suci dengan menggunakan empat bahasa. Di ujung abad ke-19, Syaikhona Kholil Bangkalan meminta KH. Saleh untuk pulang ke tanah air, mengabdikan diri untuk mendidik santri dan berjuang mengawal pergerakan. KH. Saleh meminta waktu satu tahun untuk menuntaskan mengaji di Hijaz.
2.2 Guru-Guru
1. Ki Agus Abdul Hadi (ayah),
2. Nyai Aisyah (ibu),
3. Kyai Mas Ahmad (Pesantren Kebondalem Surabaya),
4. Syaikhona Kholil di Bangkalan Madura,
5. Tuan Guru Muhammad Said di Jembrana Bali.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Mengajar Santri
Pada tahun 1900, saat berusia 38 tahun, KH. Saleh kembali ke kampung halaman, di kawasan Lateng Banyuwangi. Lambat laun, nama KH. Saleh Lateng menjadi terkenal karena kealiman dan pengabdiannya dalam mendidik para santri. Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro memberikan izin kepada KH. Saleh Lateng untuk mengajar, sejak
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

