KH. Hasbullah adalah ulama NU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
2.2 Guru-Guru
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Prajurit PETA
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Hasbullah dilahirkan di Tanah Abang, Jakarta.
1.2 Wafat
KH. Hasbullah wafat pada Kamis, 29 Jumadil Akhir 1437 atau 7 April 2016 di usia 88 tahun. Warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama kehilangan guru agamanya. Usai sembahyang Ashar mereka berduyun-duyun mengantarkan gurunya ke Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Sejak kecil, KH. Hasbullah sudah menunjukkan minatnya pada ilmu agama. Anak kepala kampung di zaman Belanda ini belajar membaca Al-Qur'an kepada Guru Hayat, seorang guru tamatan Jami’atul Khair di kampungnya.
“Keluaran kelas enam Jami’atul Khair sudah menjadi ulama. Pelajaran agamanya 100% bahasa Arab,” ujar KH. Hasbullah menyebut sekolah agama modern bergengsi di sekitar Pasar Tanah Abang itu. Kepada Guru Hayat ia belajar tajwid. KH. Hasbullah terbilang murid paling menonjol dari sekian murid Guru Hayat. Ia sangat terbantu dalam membaca Al-Qur'an karena beberapa pelajaran di sekolahnya menggunakan bahasa Arab pegon.
“Saya sedikit cepat bisa baca Al-Qur'an karena aksara Arab pegon diberlakukan untuk mata pelajaran tertentu di sekolah zaman normal. Mereka yang tidak sekolah, cukup bebal baca Al-Qur'an,” kata KH. Hasbullah yang lahir pada 2 Februari 1928 di Jakarta.
Zaman normal yang KH. Hasbullah sebut, merujuk pada era Kolonial Belanda beberapa dekade sebelum Jepang mendarat di Indonesia pada 1942. Masyarakat menyebut zaman penjajahan Belanda sebagai zaman normal karena secara politik, ekonomi, dan keamanan cenderung stabil di bawah tekanan Belanda, berbeda dengan zaman Jepang yang segala sesuatu sulit.
Tidak heran kalau KH. Hasbullah dibawa ke mana saja oleh Guru Hayat baik untuk kepentingan mengajar atau menghadiri undangan tertentu gurunya di luar kampung. Selain itu, ia diajarkan nahwu-shorof, ilmu gramatika Arab. “Belajar di zaman itu sangat susah, belum ada listrik. Saya setiap malam harus duduk mendakom, mendekatkan kitab dengan pelita.”
Dua tahun selepas SR, ia mengikuti tetangganya yang merantau ke Desa Brubug, Kabupaten Serang. Di Desa Brubug itulah ia nyantri kepada K.H. Halimi pengasuh pesantren di desa setempat pada 1943. “Saya berjalan kaki sejauh 23-24 km dari Kota Serang untuk sampai ke sana.”
Di sini, ia terus memperdalam pelajaran nahwu shorofnya. “Syarat kalam ana papat, lafadz, murakkab, mufid, wadha',” kata KH. Hasbullah menirukan Kiai Halimi. Ia mondok hampir setahun atas inisiatifnya sendiri. “Pulang mondok, orang tua juga nggak tanya apa-apa,” katanya. Orang tuanya tidak mau tahu-menahu aktivitas mondoknya.
2.2. Guru-Guru
Di zaman merdeka ini, KH. Hasbullah terus mengaji dari satu ke lain rumah, dari satu ke lain masjid dan musholla. Menggali ilmu dari satu ke lain guru. Orang yang berjasa mengajarinya mengaji antara lain Guru Hayat Pondok Pinang, Guru Li’ing, Guru Saidi Gandaria-Kebayoran, Guru Jauhari asal
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

